Showing posts with label cerpen santri. Show all posts
Showing posts with label cerpen santri. Show all posts

Wednesday, November 16, 2016

Cerpen: Selamat Jalan Teman!


Teman, kalian tentu tak ingin merasakan kehilangan bukan? Kehilangan seseorang yang berharga. Kehilangan indahnya kebersamaan. Kehilangan kekompakan, tawa, canda, dan cerita yang tak terlupakan. Sayangnya, tak ada di dunia ini yang abadi. Semua akan hilang. Semua akan pergi seiring berjalanya waktu.

Satu dari kami telah meninggalkan kami untuk selamanya. Meninggalkan semua cerita yang terekam kuat. Semua tentangnya benar-benar tak bisa untuk kami sembunyikan. Tak bisa kami sembunyikan dari rasa kehilangan yang sangat.

Teman, kami benar-benar kehilangan.

Farich Ramadhan. Sampai saat ini, hanya satu yang ia tinggalkan untuk kami. Satu yang membuat kami kembali meneteskan air mata. Mengalirkan cerita-cerita duka dan perjuangan semasa hidupnya. Teman, dia hanya meninggalkan sebuah kenangan. Kenangan yang tak mungkin kami lupakan.
Tepatnya, kenangan dua tahun silam.

Tuesday, October 4, 2016

Cerpen Gak Jelas





Satu cangkir kopi sudah habis diseruput. Tangannya masih tak bisa berhenti menggaruk-garuk rambut. Jadinya, rambut itu semakin acak-acakan. Sama kayak tulisan yang baru separagraf diketiknya. Berantakan.
Sejenak ia ngaso. Memainkan game di laptopnya. Tapi porsi bermain menjadi lebih banyak dari berpikirnya. Ia lalu berhenti setelah merasa puas. Kembali lagi menatap huruf-huruf kecil di layar.

Friday, September 16, 2016

Cerpen: Khidmah



Sejak dua puluh menit yang lalu Agus terus mengipasi bara api itu. Matanya agak kelelahan terhempas kepulan asap di depannya. Bau sangit yang menyeruak membuat tangan-tangan jail itu tak mau berhenti baraksi. Kalau saja Agus tidak lebih tegas mencegah mereka, mungkin sate-sate itu sudah ludes sebelum semuanya matang. Di ruangan sebelah, teman-teman yang bertugas memotong daging malah berebut memilih lagu di musik box. Entah mengapa ketika suara Iwan Fals berputar, mereka jadi sepakat tidak mengganti playlistnya.
Aku yang bertugas menaruh sate-sate di pemanggang sudah tak betah dari tadi menahan tebalnya kepulan asap. Meskipun begitu, kami tetap asik melakukannya. Suasana seperti ini hanya bisa kami nikmati setahun sekali.
"Semua memiliki jalan khidmah masing masing." Tiba-tiba saja Agus begumam dan langsung menghujam pikiranku.

Wednesday, August 26, 2015

Cerpen Cak Oman 2; 'Fobia Tikus'




23.30

Sudah setengah jam dari waktu wajib tidur, di mana para santri pada sibuk menyuarakan nada-nada dengkur di setiap sudut kamar. Satu suara bersahutan dengan suara dengkur lain membuat suasana malam benar-benar terasa seperti di pabrik selep. Hanya Oman yang masih tegar terjaga di ujung kamar. Di bawah lampu belajar yang terangnya tak seberapa, ia fokus menelaah kitabnya. Entah apa yang telah mempengaruhi otak Oman. Malam ini ia lebih tekun dari biasanya. 

Selain Oman, ada tiga temannya di kamar itu. Tetapi mereka sedang asik berkonser di balik punggung Oman. Mereka seperti penyiar radio yang sedang off air di tengah malam. Yah,  off air. Tahu sendiri kan suara radio off air kayak gimana? Grskrskrsgrrr.

Wednesday, February 25, 2015

Cerpen: Bukan Valentine


Hanya beberapa menit Alex menghelakan nafas di kamar, deringan hp sudah bergetar-getar di saku bajunya. Ia hanya malas menanggapi. Lebih semangat mencium aroma sedap dari luar kamar yang asapnya menari-nari di depan hidungnya. Juminten sengaja memasakkan makanan spesial anaknya hari ini.
“Hai, Lex! Bagaimana kabarmu”
“Bagaimana kau bisa tahu aku pulang”
“Hmm.. ya tahu lah”
Sejenak Alex mengintip ke luar kamar. Memeriksa apakah masakan Juminten sudah matang. Ia tak begitu peduli dengan percakapannya.
“Oh ya, gimana kadoku, udah dibuka belum?”
“Ha, kado apa?”, Alex bingung. Cuek.
“Masak belum diberikan. Tadi aku…”

Friday, October 17, 2014

Cerpen: Menggugat Kiai


Di atas bangku itu kau sandarkan semua perasaanmu. Tubuhmu lemas. Dan beban berat seakan mengolok-ngolok jiwamu. Sejenak kau memegang keningmu yang mengkilat karena peluh keringat yang keluar di kepalamu. Tampak jelas perasaan cemas dan ketakutan yang luar biasa yang kini sedang menjerat otak kosongmu. Kau lalu meletakkan buku itu di punggung tempat duduk yang ada di depanmu. Dan sekarang kau bebas melayangkan pikiranmu ditengah kobaran api penyesalan.

Thursday, October 16, 2014

CERPEN; Aku Dan Nyawa Ibu


Aku masih berada di ruang yang gelap, merengkuh tak berdaya. Di luar sana suasana sudah sangat mencekam. Deretan rumah –juga rumahku- lima menit yang lalu, yang berdiri kokoh, kini sudah tak tersisa lagi.  Hanya tertinggal puing-puing bangunan yang beberapa berlumuran darah. Bau anyir, apalagi, tercium menyengat di setiap sudut kehancuran. Membuat banyak pasang mata tak bisa membendung derasnya cairan-cairan kesedihan. Jeritan tangis beradu kencang dengan suara ambulan yang datang. Rupanya sopir-sopir itu cekatan membawa pasien-pasien ke rumah sakit. Bolak-balik tanpa kenal lelah.

Saturday, October 5, 2013

CERPEN: Ketika Tinta Bertasbih (KCB Versi Terbaru)


             
   Al Azhar. Nama yang mirip dengan Universitas di Kairo, Mesir. Memang ada kesamaan dalam segi pembelajaran. Di sini kami menekuni ilmu agama, begitu juga mahasiswa di sana. Dan Al Azhar yang kami tempati ini adalah sebuah pesantren kecil yang berdiri di tepi bengawan solo, tempat kami mengarungi samudra ilmu bersama kiyai.
                 Beribu kisah teruikir di pesantren ini. Mulai dari suka, duka, canda dan tawa, semua kami lalui bersama dengan para sahabat yang selalu setia bersama. Para sahabat terbaik dalam mengejar mimpi. Teman-teman terhebat untuk dapat berdiri. Dan kawan-kawan yang tepat untuk sharing hal-hal kecil. Yah, di sinilah semua kisah-kisah itu terjadi.

Friday, September 20, 2013

Cerpen: Sekolah Ga’ Niat, Mau Jadi apa?



Mentari yang hangat, tetesan embun yang sudah mengering, Ayam jantan yang sudah berhenti berkokok, dan suara nadhoman yang kian ramai terdengar di seluruh penjuru kelas. Sial, hari ini aku telat lagi. Sudah jam setengah Sembilan broo… Gila, jam segene aq baru berangkat, gimana respon gus Rokhim nanti…?
Ampun pak… jangan hukum saya… hatiku gemeresek gak karuan. Fuhh.. masa bodohh, yang penting aku tetap sekolah. Guse kan penyabar. Paling-paling juga akan berdiri di kelas. Sebenarnya itu lebih baik, dari pada aku dipersilahkan duduk, terus tidur, ngeekk, hilanglah semua kalam indahnya, dan aku tetap dalam peraduanku (cek ile.. pakek nyastra segala).

Monday, September 2, 2013

Cerpen: Jiwa Hitam Yang Melepuh



Pagi-pagi begini enaknya ngapain. hari jumatkan libur jadi inginku beolah raga saja biar lebih sehat, tapi aku tak hobi bermain bola, atau pergi kebabat saja sekedar merefreskan fikiran. tapi aku males jalan kaki, huft… lebih baik aku menulis saja dari pada tak ada kerjaan apapun. Tapi aku juga bingung mau menulis apa, hehe… ko jadi begini yah. Kenapa semua serba membingungkan. Ah, tak apalah yang penting aku suka menulis, karna menulis adalah bagian dari hidupku dan dengan menulis kita bisa berexpresi dengan bebas sehingga bisa di baca oleh orang lain. Apalagi jika teman kita bilang bahwa tulisan ku bagus atau menarik dan enak di baca, seperti novelnya Habiburrohman El-Shirazy.

Monday, May 27, 2013

Cerita Puendek : Hantu Kamar Mandi





Meskipun cerita ini bohongan, tapi aku tetep ingin menceritakannya, Karena cerita ini terlintas begitu saja di pikiranku , sehingga sayang sekali kalau gak diceritakan  .

            Pada suatu malam aku kebelet pipis. aku takut pergi ke kamar mandi sendirian ,namun aku sudah gak tahan lagi. akhirnya ku beranikan diri ke sana. terdengar suara tetesan air, tik ,,, tik ,,, tik ,, membuat jantungku berdebar begitu kencang. setelah aku membuka pintu, aku terkejut melihat tikus  berlari ke arahku, jantungku rasanya mau copot. Aku mencoba untuk tenang agar rasa takutku berkurang, ku buka sarungku dan aku pun mulai pipis.

Cerpen Santri : Air Mata Syaikhina



Tiba-tiba saja beliau datang dengan tongkatnya sambil terbatuk-batuk kecil menaiki tiga anak tangga di pintu utara sebelah timur mushola agung Langitan, aku yang menyandar santai di daun pintu utara sebelah timur itu pun dengan segera menata sikap, duduk timpoh atau semacam duduk iftirosy dalam sholat. Aku melihat wajah teduh beliau begitu serius, semakin mendekatiku dan aku semakin dag-dig-dug, aku memang selalu ndredeg ketika harus berhadapan langsung dengan orang yang sangat aku kagumi dan aku muliakan seperti Mbah Yai, dan lebih ndredeg lagi kali ini karena beliau yang datang mendekati.
“Awakmu kelas piro?”
Aku masih dalam kendredegkanku.
“Ke..ke..ke..las ka..leh A..li..yah.”
Dengan terbata aku menjawab, namun mungkin suaraku terlalu pelan yang entah kenapa tiba-tiba saja dahak mengumpul di tenggorokanku seakan serak tak bisa jelas untuk bicara, lagi-lagi sindrom ndredeg yang kerap melandaku.

Saturday, May 25, 2013

Cerpen Santri : Bintang Fajar


Kau tidak lagi segagah dulu, pundukan otot di lenganmu yang dulu sangatlah kekar kini melembek.  Dadamu yang dulu selalu membusung bahkan  kini tak kuasa lagi untuk menahan berat kepala dan lehermu. Memang dia itu kejam, telah sedikit demi sedikit merenggut apa yang engkau miliki, rambut hitammu, kulit kencangmu, suara gaunganmu, tapi sebelum ini kau masih tetap memiliki satu hal yang dapat membuat hidupmu sedikit berarti untuk dijalani, iya kau masih bisa tersenyum, tanda bahwa hatimu masih luas dan penuh semangat.

Thursday, May 9, 2013

Cerpen Santri : Bubur Muntah



Gini nih kalau orang punya sifat rakus. Gak tahu makanannya apaan, semuanya ludes ditelan.Jalal emang begitu sifatnya.Dia gak pernah mikir dulu kalau mau makan, ups jadi kayak mau ujian pakek mikir segala. Maksudnya dia itu gak pernah meneliti dulu makanan yang ia makan itu baik atau bukan, yang jelas semuanya masuk dalam liang perutnya. Tahu rasa deh akhirnya, gara-gara sifat rakusnya itu.Dia jadi gak nafsu makan sampai tiga hari. Kebayang gak sih, gimana merananya tuh perut sampek mogok makan segitulamanya. Kejadian itu gak akan pernah terlupakan. Dia udah bikin teman** sekamar tertawa ngakak** gak karuan, sampai** udelnya sikolis udah kayak mau copot.

Wednesday, March 13, 2013

Cerpen : Santri Jalanan


Adakah pelangi yang masih menyapaku dengan kelembutan hati?.  Adakah pandangan yang mampu membuatku terlena dengan keindahanya?. Dan adakah bangunan yang paling indah selain pondok pesantren Nurul Huda yang terletak tidak jauh dari menara monas ?.  Yang mungkin menurut pandangan orang-orang awam adalah tempat yang kumuh, para orang-orang kolot dan tak menyesuaikan akan zaman?. Bagi mereka yang tidak mengerti akan arti pesantren yang sebenarnya. Dan beribu-ribu rahasia yang tersimpan di balik pesantren dan juga  banyak pengunjung yang mendatanginya untuk menimba ilmu di sana. Mungkin mereka beranggap bahwa pesantren adalah  tampat obrolan belaka yang tak bermanfaat, hingga tak dianggap oleh pemerintah karena tidak ada ijazahnya?. Ya... mungkin saja begitu...

Saturday, August 11, 2012

Cerpen Santri : Perubahan Samsu


Santri  Kece
Teng-teng  (8x) terdengar bunyi jam berdenteng di atas menara mushola, suara yang selalu saja terdengar di telingaku dalam jangka 60 menit setiap harinya. Biasanya sich suara itu selalu didahului oleh tengnya bel diaula, tapi untuk hari ini tidak lagi, hari yang special bagiku, hari dimana aku bisa melepaskan penatku dari kesibukan** pondok, hari dimana aku bisa bersantai dengan teman**, meski tiap hari juga begitu, dan yang pasti hari dimana aku tak perlu lari** mengejar waktu agar tidak telat masuk sekolah. Uugh kebiasa’an banget  “hil, wis mari to urong ngulek,e’’ teriak fahmi,dia memang tak pernah pelan kalo bicara ,kayak klakson.  “wess, nang sumeten kompore, eh kliru..maksudku petek,en lpg ne’’ aku tak mau kalah dengan suara fahmi, kujawab aja dengan lantang  “lek ngono aku tak nggorengkrupuk, irisono terong iku”terocos fahmi, anak itu memang kayak gitu sifatnyasok memerintah, meski pada anak yang lebih tua sekalipun. dan kami memang selalu beginitiiap hari libur, disa’at anak** pada sibuk ro’an kami malah mencil di dapur, biasaa cari suasana lain gituu Menit demi menit berlalu, para santri juga sudah pada kembali dari  pencarian mereka kepada yang namanya barokah, ro’an maksudnyaa.