Senin, 02 September 2013

Cerpen: Jiwa Hitam Yang Melepuh



Pagi-pagi begini enaknya ngapain. hari jumatkan libur jadi inginku beolah raga saja biar lebih sehat, tapi aku tak hobi bermain bola, atau pergi kebabat saja sekedar merefreskan fikiran. tapi aku males jalan kaki, huft… lebih baik aku menulis saja dari pada tak ada kerjaan apapun. Tapi aku juga bingung mau menulis apa, hehe… ko jadi begini yah. Kenapa semua serba membingungkan. Ah, tak apalah yang penting aku suka menulis, karna menulis adalah bagian dari hidupku dan dengan menulis kita bisa berexpresi dengan bebas sehingga bisa di baca oleh orang lain. Apalagi jika teman kita bilang bahwa tulisan ku bagus atau menarik dan enak di baca, seperti novelnya Habiburrohman El-Shirazy.

Tapi kenapa hari ini terasa aneh. Sedari tadi aku belum menulis apa-apa selain coretan-coretan yang tak jelas ini. Aneh, hari ini aku tak seperti biasanya. aku hanya bisa terdiam, diam dan tak bermateri bagai awan yang diterkam oleh kesunyian malam, yang selalu menghantui di setiap sudut dunia. aku seakan-akan berada di tengah malam hutan yang lebat dan tak ada satu pun orang selain aku. Tubuhku terasa dingin seperti ada yang mengikutiku dari arah belakang. Aku yakin mahluk itu semakin dekat ke arahku. Suara aneh tiba-tiba muncul mengiringi kedatangannya. Seperti terdengar suara ketukan kayu besar yang telah berputar di telingaku. keras sekali suara itu, sepertinya aku ingin lari tapi aku tak berdaya bagai rumput di padang pasir. Dan sekarang sosok itu berada tepat dihadapanku. Tubuhnya besar berwarna hitam dengan membawa tongkat besar dan berwajah garang seakan-akan sudah siap menerkam mangsanya. Makhluk itu mulai mengeluarkan perekataanya, “Nabil ayo bangun-bangun… tunggu apalagi kamu, lihat sudah jam berapa sekarang!” .  fiuuuuhgg! ternyata cuman mimpi. Setelah bermimpi yang aneh itu, fikiranku mulai tak karuan walaupun aku tau  itu hanya mimpi buruk. Ku lihat jarum jam sudah mendekati angka 12, tanda sholat Jum’at akan segera dimulai.
@@@
            Hari ini terasa sangat panas. Tak seperti biasanya, mungkin hari ini matahari telah marah kepadaku karna aku kesiangan berangkat sholat Jumat. Apa mungkin ini hari sial, ah! tak mungkin, tak ada kata-kata hari sial karna semua kehidupan itu ada yang mengatur yaitu Allah. Dan tak ada hari sial walau kadang banyak orang bilang ini hari sial. Tapi kenapa hari ini sangat panas, padahal ini masih musim hujan.
            “Eh… Fahri, kenapa yah, siang tadi ko terasa sangat panas?” tanyaku pada Fahri yang sedari tadi asyik minum Es buah pak Ijo.
            “Ah! Enggak ko, mungkin perasaanmu aja kali” jawab fahri enteng sambil meminum es buah yang segar itu. Aku terdiam sejenak lalu berfikir dalam-dalam. Tapi kernyitan dahiku ternyata menimbulkan sejuta pertanyaan bagi Fahri. Tak sabar dia pun akhirnya angkat bicara.
            “Hei... sobat gak usah dipikirin, ngapain juga dipikirin bikin kepalaku ikut pusing” rupanya Fahri dari tadi memperhatikanku. Tak kusangka dia juga peduli dengan masalahku. Padahal satu minggu yang lalu kita berdua sempat bertengkar gara-gara rebutan tempat duduk di depan Kyai sewaktu ngaji sore. Tapi itu hanyalah kesalahan kecil bagi kami, dan hal itu sepertinya sudah wajar. Fahri memang temanku yang istimewa dan tak seperti teman-teman yang lainya. Dilihat dari penampilanya dia bisa dibilang orang tidak mampu di sini. Pilihan kenapa dia mondok di sini adalah karna tak kuat melihat keluarganya yang serba susah. Belum juga ditambah lagi dengan kakak-kakaknya yang selalu ingin kuliyah seperti teman-temanya di sekolah dulu. Tapi Fahri memilih mondok saja dari pada kuliah, karna lebih sedikit pengeluaran uang dari pada kuliah.
            “Bil... udah gak usah dipikirin, nih masih ada sisa Es buah, lumayan buat meredakan haus di tenggorokanmu” ujar Fahri sambil melihatku tersenyum. “Oh iya terimakasih ri... ”. Beginilah rasanya bersahabat, tak ada kata benci dan tak ada kata sendiri di waktu kita susah. Tak ada kata susah di waktu ada marabahaya, indah rasanya seperti pelangi yang selalu menghiasi awan yang hitam.
@@@
            Hari semakin cerah, sinar matahari membuat bangunan pondok Musytarsidin lebih bersinar dari sebelumnya. Dan kini sinar matahari membuatku lebih bersemangat beraktivitas dari pada hari-hari kemarin. Alhamdulillah hari ini tujuh bait nadzom Al-fiyah telah kuhafalkan dengan tanpa susah sewaktu menunggu jama’ah sholat Subuh. Kini aku siap untuk menyetorkannya pada pak Rohim di sekolah nanti. Dan semoga saja aku bisa mendahului hafalan Fahri yang sudah mencapai 852 nadzom.
Selesai mandi pagi untuk persiapan sekolah langsung aku menghadap kepada Allah untuk melaksanakan Sholat dhuha empat rokaat seperti biasanya. Setelah selesai segera aku panjatkan do’a untuk kedua orang tuaku yang selalu mendoakanku di setiap waktu dan tak pernah bosan membiyaiku setiap bulanya. Dan tak juga lupa untuk Al-Fiyahku, semoga bisa khatam dalam waktu dua tahun ini.
Selesai sudah, waktunya berangkat sekolah. Tapi sebelumnya aku panggil Fahri dulu untuk berangkat bersama-sama ke sekolah. Dan saat kutanyakan pada teman sekamarnya ternyata dia sudah berangkat duluan. Ya sudah, lebih baik berangkat sendirian saja. Tapi rasanya tak enak jika jalan sendirian tanpa adanya sahabatku Fahri. Dia anak baik, rasanya baru pertama kali aku mendapatkan teman seperti dia.
Sebelum sampai di sekolah aku melihat ada santri yang berdiri di depan kantor pusat, tempat para keamanan untuk menjaga ketertiban pondok. Emangnya orang itu siapa? pasti dia melanggar aturan pondok. Tetapi sepertinya aku kenal dengan orang itu, orang yang kemarin memberiku Es buah ataukah bukan?, mataku kurang jelas untuk melihatnya, sehingga ku dekatkan penglihatanku pada orang tersebut. Ternyata memang benar orang itu adalah Fahri, Astagfirulloh... kenapa dia ada di sana. Sedang apa Fahri berdiri di depan kantor pusat. Mengapa dia tidak sekolah. Apa mungkin Fahri melanggar peraturan pondok. Ah! Tidak mungkin, orang sebaik Fahri tidak mungkin melanggar aturan pondok, karna dia juga murid kesayangan pak Rohim di kelasku.
beribu pertanyaan muncul di fikiranku. Sampai di sekolah pun aku tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar. Fikiranku hanya tertuju pada Fahri sahabatku, mungkin tujuh nadzom yang sudah kuhafal telah pergi begitu saja karna melihat sahabatku berdiri tadi. Kenapa jadi begini, aku coba tanyakan pada teman sekelasku.
“Eh... Maulana, kamu tahu tidak Fahri kemana?” tanyaku berpura-pura tak mengerti.
“Oh... Fahri toh, dia lagi di hukum di kantor keamanan karna kasus pencurian” jawabnya dengan serius sambil melihat ke arahku seakan dia bingung dengan keadaanku.
“Apa! Kasus PENCURIAN, dari mana kau tahu Fahri telah mencuri?” balasku kaget karna mendengar ucapanya. Tapi aku benar-benar tidak percaya dengan maulana. “kamu pasti bohong kan...!”
“percaya atau tidak semua bisa dibuktikan nanti sore!. balasnya singkat sambil meninggalkanku sendiri di kelas. Tapi sebelum pergi Maulana berpesan. “Jangan kamu anggap Fahri sebagai sahabatmu!”. Kata-katanya terlalu menyelekit hatiku. Kenapa Maulana bicara seperti itu. Apa karna aku terlalu dekat dengan Fahri. Apa mungkin ini hanyalah fitnah belaka, ataukah kenyataan. Tetapi aku benar-benar tidak mempercayainya.
@@@
            Waktu sore telah tiba. Setelah sholat Ashar semua santri telah berkumpul di depan aula untuk melihat hukuman Fahri yang telah mencuri. “Mohon tenang... tenang... diharap jangan berisik, karna akan segera dimulai waktu pencukuran”. Teriak salah satu pengurus pondok untuk menenangkan suasana para santri yang ribut. “Sebelumnya kami meminta maaf pada teman kita yang telah kehilangan uang yang telah dicuri oleh Fahri, maka dari itu ini adalah sebuah pelajaran bagi para kalian semua agar tidak mencuri barang atau uang santri yang lainya. Dan jika itu terjadi, maka akan mendapat hukuman keras seperti yang kalian lihat semua pada anand Fahri ini....”. ketua keamanan itu berbicara panjang lebar untuk mengingatkan seluruh santri yang ada di aula. Setelah peringatan dan nasehat panjang dari keamanan itu selesai, pencukuranpun dimualai. Mataku terasa perih melihat kondisi Fahri seperti itu. Dan kini aku telah percaya bahwa Fahri bukanlah sahabatku yang sebenarnya. Aku telah salah berteman dengan Fahri. Cerita di saat aku bersama Fahri kini telah menjadi abu hitam yang selalu melekat di fikiranku. mulai dari belajar mengaji, musyawaroh bersama, makan bersama satu talam , sampai bermain bola pada hari jumat, sekarang semuanya menjadi muak untuk aku kenangkan. Mungkin hanya air mata yang bisa menghapusnya, ribuan mata kini tertuju pada Fahri. Seluruh santri berteriak memakinya. “HUH... DASAR PENCURI SIALAN...”, cacian kata demi kata telah berjatuhan di telingaku dan tentunya juga di telinga Fahri.  Air mata Fahri terpaksa menetes di pipinya. Ternyata air mata kesucian itu jatuh dari seorang hamba yang mampu mengaku atas kemaksiatanya di hadapan Allah. Tapi kini ini aku telah sadar bahwa sahabat bisa saja menjadi penjahat.
@@@
Sehari setelah kepergian Fahri, aku terasa sendiri dan tak ada yang menemaniku lagi di saat sedih. aku masih ingat pesan Fahri sewaktu makan di kantin pak Rohimin. Dia berkata bahwa “Nabil kau harus ingat dengan kata ini jangan terlalu bersedih jika sahabatmu ternyata penjahat”. Kata itu yang selalu berada di fikiranku dan ternyata telah terjadi pada sahabatku sendiri. Ternyata dia bukanlah seperti yang kufikiran sebelumnya. Setelah aku merenung begitu lama sepertinya di belakang ada yang memanggilku. Rupanya Maulana tengah berlari sambil membawa selembar surat berwarna biru.  kenapa dia membawa surat dan untuk siapa surat itu.
            “bil… ini ada surat dari Fahri, kemarin sebelum boyong dia sempat menitipkan surat ini padaku”. Ucap Maulana sambil ngos-ngosan.
            “Oh… ya terima kasih ya atas titipanya”. Balasku singkat pada Maulana, Diapun segera meninggalkanku. Aku segera membaca surat tersebut dengan serius.

To : Sahabatku, Nabil
By : Fahri Firmansyah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
            Sobat, rasanya kita tak lama bersahabat. Kamu sudah lihat sendiri kejadianku kemarin karna perbuatanku. Mungkin kau tidak mempercayainya karna yang kau lihat bukanlah aku sebenarnya kau sangka baik, akan tetapi sebaliknya. Akupun tak menyangka kenapa aku bisa melakukan ini. Sekarang aku tak akan melakukanya lagi. Karna kaulah aku akan berubah, jiwa santunmu membuat hatiku luluh. Aku sudah mempunyai banyak teman tetapi kaulah satu-satunya yang  bisa meluluhkan hatiku, terima kasih sobat…
            Aku pesan satuhal padamu, kelebihanmu bisa menutupi kekuranganku dan kekuranganmu akan bisa melengkapiku, maka dari itu jangankau anggap aku adalah musuhmu. Sekian..

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

            Hening sudah. Semua legenda kehidupan telah ditutup dengan adanya cahaya fantasi dari Yang maha kuasa. Manusia bisa berbuat apa saja, tetapi Allah lah yang menghendaki. Bayi yang lahir, nyawa yang hilang,  daun yang jatuh dan hujan yang turun, semua itu adalahlah kehendak Allah.  Angin pantai mulai menghiasi samudra Hindia demi ikan-ikan yang berdzikir kepada Allah. Serabut awan telah dibuka dengan cahaya surya. Suara burungpun mulai menghilang, dan langitpun mulai diam lalu diganti dengan kesunyian malam.

Sekian









Langitan, 27 September 2013
 By*Yagami_El-Heaffy
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih telah berkomentar