Showing posts with label Kolom Santri. Show all posts
Showing posts with label Kolom Santri. Show all posts

Monday, May 27, 2013

Daging Sapi Pak Lurah



Pernahkah kita berfikir bahwa dalam diri kita selalu terselimuti hawa nafsu yang terkadang kita sendiri tidak menyadarinya. Dalam satu sisi nafsu tersebut mungkin bisa dikendalikan, tapi di sisi lain nafsu itu bahkan bisa berkembang menjadi sebuah ketamakan. Pada akhirnya semua akan menjadi bumerang yang akan merugikan diri sendiri.  

Sejenak mungkin kita bisa belajar dari pengalaman seorang Raka ketika ia diundang oleh Pak Lurah untuk memimipin do’a pada acara Tahlilan di rumahnya. Menurut kabar yang ia dengar, pak Lurah telah menyembelih dua sapi untuk hidangan para undangan pada acara itu. Betapa girangnya hati Raka mendengar kabar tersebut. Ia pun mempersiapkan segalanya termasuk do’a yang akan ia perpanjang dalam acara tersebut.

MASIHKAH SANTRI CALON PEWARIS NABI ?




Mungkin kita begitu terlena dengan pujian yang disanjungkan mereka terhadap para santri yang hanya dengan keberadaan kita di pesantren adalah sebuah keajaiban yang tidak dianugerahkan kepada sembarang orang melihat zaman mulai menggila dan komersil. Adalah maraknya kemaksiatan dan permasalahan negara di sebagaian besar lini kehidupan berbangsa  satu diantara alasan mereka menaruh harapan besar pada manusia pewaris nabi untuk mengentaskan problem yang di akhir-akhir ini malah semakin menjadi.

Pertanyaanya : benarkah hanya dengan modok di pesantren salaf kita mampu membenarkan khusnudzon mereka terhadap kita.....?

Kolom Santri : Bercermin Pada Tiga Ekor Ikan



Kawan, pernahkah kalian dengar cerita tentang tiga ekor ikan yang terancam di dalam kolam. Di antara kalian mungkin sudah ada yang mendengarnya. Yah, setidaknya kalian bisa bercermin pada ketiga ikan ini untuk menghadapi masalah yang ada di depan kalian.

Kajadian ini terjadi ketika tiga ekor ikan mengetahui rencana si pemilik kolam yang akan menangkap mereka di esok hari. Satu diantara mereka tidak ingin lama-lama berada di dalam kolam itu. Ia pun berusaha cepat-cepat untuk keluar dari dalam kolam. Sampai akhirnya, ia berhasil keluar dengan melompat ke sungai di samping kolam itu.

Wednesday, March 13, 2013

Hilangkan Keraguan Hati

Santri sekarang mulai terombang-ambing keteguhan hatinya. Banyak yang beranggapan bahwa kehidupan yang mapan dapat dicari dengan harta yang melimpah –melalui ijazah, titel, Dll. Padahal kenyataan adalah sebaliknya. Itu hanyalah propaganda pihak-pihak tertentu untuk memojokkan sebuah pesantren yang mayoritas peserta didiknya hanyalah orang-orang yang ikhlas menuntut ilmu saja. Tanpa adanya bukti tertulis sebagaimana ijazah.
Kita sebagai santri sudah selayaknya tahu dan memehami bahwa rizki itu sudah ada yang mengaturnya, dan masalah kaya atau pun miskin itu adalah takdir kita. Tak perlu takut terhadap masa depan. Kita harus yakin bahwa Allah SWT tidak akan membiarkan begitu saja umat-Nya yang taat,  Allah pasti akan menolongnya. Tinggal kita mau bersabar dan berikhtiar.
     Sebagai mana contoh, lubang yang berada di jalan pun bisa menghasilkan rizki. Lihat saja  setiap ada kendaraan yang mau melewati lubang tersebut pasti akan berjalan pelan. Dan tidak jarang bagi para pengemudi memberikan uang pada penunggu jalan berlubang tersebut. Masih banyak lagi contoh-contohnya ketika Allah menurunkan rizki disebabkan suatu yang sepele dan remeh. 

Kolom : Pohon Si Kakek Tua


Masalah memang tak pernah lepas, hidup memang penuh cobaan dan tanggung jawab. Hanya orang bodoh yang tidak mau punya masalah.
Diceritakan ada seorang kakek yang mempunyai kebiasaan aneh, dia selalu memegang daun yang berada di depan rumahnya ketika pulang dari kerja. Dia adalah seorang pekerja yang sangat rajin, penuh perhatian, kasih sayang dan kelembutan terhadap keluarganya. Ketika dia ditanya mengapa dia melakukan hal seperti ini?, selalu memegang daun yang berada di dekat pintu rumahnya ketika sepulang dari bekerja, dia hanya tersenyum penuh rahasia. Tak ada yang tahu sebab yang mendasarinya untuk melakukan hal tersebut.
Pada suatu hari, cucunya yang paling besar, mengalami kebangkrutan yang luar biasa. Hartanya habis dan sebagian lagi disita oleh pihak bank karena terlilit hutang. Dia pulang dengan wajah kusut. Dan sejak saat itu dia menjadi pendiam dan sering mengurung diri.