Senin, 27 Mei 2013

MASIHKAH SANTRI CALON PEWARIS NABI ?




Mungkin kita begitu terlena dengan pujian yang disanjungkan mereka terhadap para santri yang hanya dengan keberadaan kita di pesantren adalah sebuah keajaiban yang tidak dianugerahkan kepada sembarang orang melihat zaman mulai menggila dan komersil. Adalah maraknya kemaksiatan dan permasalahan negara di sebagaian besar lini kehidupan berbangsa  satu diantara alasan mereka menaruh harapan besar pada manusia pewaris nabi untuk mengentaskan problem yang di akhir-akhir ini malah semakin menjadi.

Pertanyaanya : benarkah hanya dengan modok di pesantren salaf kita mampu membenarkan khusnudzon mereka terhadap kita.....?


Berangkat dari rangkaian kata yang membentuk kalimat “ ulama’ warotsatul anbia’ “tulisan ini mencoba menaukidi  atau menambah dari beberapa tulisan yang bertemakan keprihatinan terhadap keadaan santri zaman sekarang.

Memang tidak dapat dipungkiri kecanggihan dunia sekarang menawarkan serba instan pada semua hal, mulai dari alat elektronik hingga merambat bagaimana caranya mendapatkan gelar orang berilmu tanpa kepayahan. Maka janganlah kaget jika bermunculan para pedagang ijasah sarjana dengan harga yang lumayan murah jika berbanding kesabaran menunggu empat atau lima tahun, serta belum pasti ada jaminan mendapat ijasah sebagai tanda kelulusan seorang mahasiswa.

Pentingnya ijasah di zaman serba aneh ini memang tidak bisa dihindari, bahkan agar usaha da’wah para alumni pesantren tidak berhenti di tengah jalan mereka juga terdaftar sebagai pembeli pangkat sarjana atau yang sejenisnya. Padahal kalau kita mau memandang mundur sejenak kenyataan masyarakat tempo dulu mereka lebih percaya pada pangkat K.H jika dibandingkan dengan pangkat S, Dr, Prof atau yang sejenisnya, tapi hal ini hampir punah dengan keadaan masyarakat sekarang. Bahkan masih belum beranjak dari ingatan kita tentang program pemerintah yang menginginkan sertifikasi terhadap para kyai dan imam masjid. Ironis memang.

Sebenarnya masalah di atas tidaklah begitu mengherankan, karena keadaan di sekitar kita juga sudah mulai menandakan ke arah sana. Coba kita tengok kesemangat santri model sekarang. Seolah -tanpa di sadari- kita hampir menyamakan kegiatan belajar kita pada model sekolah umum yang sebagian besar tujuanya  adalah bagaimana bisa lulus dengan nilai baik meski ditempuh dengan usaha curang dan tidak jujur. Dengan dua kali semester dan empat kali ujian sekolah umum merasa mampu menilai hasil pembelajaran mereka selama satu tahun. Tapi pantaskah pesantren kita mejiplak model tersebut, mengingat santri sekarang sudah mengatakan iya tanpa ucapan. 

Jika kita mau mengamati, ternyata sebagian besar dari kita hanya belajar dengan serius ketika UHT atau ujian semester datang dengan harapan nilai raport memuaskan meski terkadang juga meniru gaya mereka, yakni mencotek bangku sebelahnya. Maka secara tidak langsung perlahan kita berusaha memunahkan musyawarah, tatbiq dan kegiatan berbau pendidikan lainya –dari satu tulisan teman kita- yang hanya dianggap sebagai kegiatan ekstra. Bahkan gaya belajar dengan buku terjemah juga mulai menjamur di kalangan kita. Terus apa gunanya kitab kuning yang disajikan tiap hari...?

Usaha pemberian ijasah bagi santri purna aliyah yang bertujuan agar santri tidak terburu-buru boyong atau ikut sekolah terbuka agaknya perlu diimbangi kegiatan yang bersifatkan  penyemangat  peserta didik pesantren agar tidak hanya tepaku pada raport atau ijasah sehingga mematikan model kesalafan pondok kita seperti musyawarah, demam membaca kitab kuning,  dan di sana sini terlihat pemandangansantri menghafal nadzom. 

 Akhirnya kita hanya bisa berharap semoga dengan kesadaran kita terhadap sanjungan mereka sebagaimana di awal tulisan benar-benar membangkitkan gairah kesalafan kita sehingga memabukan kita memahami kitab kuning sebagai wasilah pangkat yang dihadiahkan mereka terhadap para santri apa lagi kalau bukan “ calon pewaris nabi”. Wallahu’alam bishoab

oleh 
EMHA ANGKUSPRONA

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih telah berkomentar