Rabu, 13 Maret 2013

Hilangkan Keraguan Hati

Santri sekarang mulai terombang-ambing keteguhan hatinya. Banyak yang beranggapan bahwa kehidupan yang mapan dapat dicari dengan harta yang melimpah –melalui ijazah, titel, Dll. Padahal kenyataan adalah sebaliknya. Itu hanyalah propaganda pihak-pihak tertentu untuk memojokkan sebuah pesantren yang mayoritas peserta didiknya hanyalah orang-orang yang ikhlas menuntut ilmu saja. Tanpa adanya bukti tertulis sebagaimana ijazah.
Kita sebagai santri sudah selayaknya tahu dan memehami bahwa rizki itu sudah ada yang mengaturnya, dan masalah kaya atau pun miskin itu adalah takdir kita. Tak perlu takut terhadap masa depan. Kita harus yakin bahwa Allah SWT tidak akan membiarkan begitu saja umat-Nya yang taat,  Allah pasti akan menolongnya. Tinggal kita mau bersabar dan berikhtiar.
     Sebagai mana contoh, lubang yang berada di jalan pun bisa menghasilkan rizki. Lihat saja  setiap ada kendaraan yang mau melewati lubang tersebut pasti akan berjalan pelan. Dan tidak jarang bagi para pengemudi memberikan uang pada penunggu jalan berlubang tersebut. Masih banyak lagi contoh-contohnya ketika Allah menurunkan rizki disebabkan suatu yang sepele dan remeh. 
Berpegang teguhlah pada
 حرك يدك أنزل عليك الرزق
gerakkan tangan mu maka kau akan di beri rizki.   
     Sebagai contohnya lagi, ada seekor serangga yang tidak bisa terbang dan berjalan lambat tapi dia mendapat rizki dari hewan yang bisa terbang seperti nyamuk, lalat dan serangga kecil lainya.
Jangan ragu, seorang santri harusnya teguh dan memiliki Quwwatul I’tiqod dan Husnul I’tiqod pada seorang kyai, yakinlah segala yang kita lakukan di pondok ini akan membawa keberkahan tersendiri di rumah kelak, dengan catatan dilandasi dengan rasa ikhlas dan sabar.                 Jangan malah ikut-ikutan ke sana ke mari memburu ijazah, titel atau apalah, dengan alasan ingin kaya, mudah mendapatkan pekerjaan pangkat dsb.
Cukup. Kita fokus mencari ilmu dan ilmu. Ilmu adalah hal yang lebih utama, dengan ilmu kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan itulah yang membedakan manusia dengan hewan. Dengan ilmulah nabi Adam lebih mulia dari pada malaikat.
 Ilmu adalah perkara yang mulia, tentu saja tidaklah mudah cara memperolehnya, kalau kita saja mau mendapatkan harta harus bersusah payah, banting tulang peras keringat, apa lagi dengan mencari ilmu? Ya....  tentunya lebih keras lagi. Di antaranya kita harus tahu bagaimana cara mendapatkan ilmu yang baik dan benar agar ilmu tersebut bisa bermanfaat di dunia dan akhirat.
1.    Ilmu itu kebanyakan dapat di peroleh ketika kita masih belum banyak fikiran. Dan itu adalah masa kecil. Mengapa demikian? karena masa kecil adalah masa yang efektif mencari ilmu. Otak kita belum banyak isinya. Seumpama komputer  masih baru, belum banyak isinya, dan virusnya belum banyak jadi ilmu yang masik semakin banyak dan cepat. Beda kalau sudah tua, Biasanya kalau sudah tua itu sudah banyak fikiran yang macam-macam. Jadi tidak bisa fokus dan akhirnya masuknya ilmu agak lambat.
2.    kita harus merendahkan diri di hadapan ilmu karena ilmu ibarat air, dan air itu mengalir ke tempat yang bawah. Makanya semakin kita tawadluk terhadap ilmu, maka semakin banyak ilmu yang kita dapat. Santri itu disarankan ketika mondok itu harus khidmah. Tapi perlu diingat bahwasanya khidmah itu beragam adanya, di antaranya:
a)    Taat pada peraturan, karena dengan taat pada peraturan secara tidak langsung kita mengerjakan perintah para masyayikh dan sebagai arus ridlonya guru kepada murid.
b)    Belajar yang giat (Usaha + Belajar) karena dengan kesungguhan dan kegiatan kita dalam belajar akan membentuk karakter yang kuat. Walaupun pada masa ini belum berhasil, tapi lama kelamaan insya Allah akan berhasil, karena Allah itu maha tahu kapan orang itu mendapatkan rizki yang baik. Dan ilmu adalah rizki.                
 By:soekewenk                                                                             
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih telah berkomentar