Jumat, 16 September 2016

Cerpen: Khidmah



Sejak dua puluh menit yang lalu Agus terus mengipasi bara api itu. Matanya agak kelelahan terhempas kepulan asap di depannya. Bau sangit yang menyeruak membuat tangan-tangan jail itu tak mau berhenti baraksi. Kalau saja Agus tidak lebih tegas mencegah mereka, mungkin sate-sate itu sudah ludes sebelum semuanya matang. Di ruangan sebelah, teman-teman yang bertugas memotong daging malah berebut memilih lagu di musik box. Entah mengapa ketika suara Iwan Fals berputar, mereka jadi sepakat tidak mengganti playlistnya.
Aku yang bertugas menaruh sate-sate di pemanggang sudah tak betah dari tadi menahan tebalnya kepulan asap. Meskipun begitu, kami tetap asik melakukannya. Suasana seperti ini hanya bisa kami nikmati setahun sekali.
"Semua memiliki jalan khidmah masing masing." Tiba-tiba saja Agus begumam dan langsung menghujam pikiranku.

Aku terjingkat. Kalimat yang baru saja keluar itu menyangkut persis apa yang sedang kupikirkan. Aku jadi sedikit curiga, jangan-jangan dia punya kemampuan membaca pikiran orang.
"Kemarin Haris baru saja pindah ke komplek barat. Ia resmi jadi pengurus sekarang. Kelihatannya mungkin enteng, tapi dia memikul beban dan tanggung jawab yang berat," lanjutnya seraya mengusap keringat di kening. Panas bara api itu memang sunggung membuat tubuh gerah.
Aku tertegun. Sedikit merenung. Benar juga, dari tadi pagi Haris belum juga beristirahat demi mengurusi perizinan para santri. Ditambah lagi, tadi malam ia harus mengkordinir jalannya lomba takbir keliling. Para peserta perwakilan kompleknya ditanggungjawabkan secara penuh kepadanya. Ia melakukannya mulai dari mengkonsep busana, mengatur segala properti,  hingga menyediakan  konsumsi untuk mereka. Setelah lomba selesai, ia dan pengurus lain di kompleknya masih harus bekerja tengah malam membenahi pompa air yang tiba-tiba saja macet. Penampungan air yang berada di samping kompleknya itu harus benar-benar terisi sebelum esok tiba dan para jamaah dari luar pesantren berdatangan melaksanakan shalat ‘id.
"Sudah enak dia. Tak usah izin berbelit belit, bisa keluar," sambung Amir yang tiba tiba datang menghampiri kami. Tangannya menenteng nampan kecil berisi belasan tusuk sate dari ruang sebelah. Siap untuk dipanggang. "Beda sama kita," lanjutnya.
Benar juga yang ia katakan. Dari kemarin, teman-teman sempat cemas akan adanya isu tidak diperbolehkannya izin keluar saat lebaran Idul Adha. Hingga tadi pagi, setelah shalat ‘Id, aku dan Anwar memberanikan diri datang ke kantor untuk memastikan kabar tersebut. Rupanya kami keliru, mereka hanya menunda perizinan hingga hari H tiba. Pada saat itu juga para santri bergerumun menuju kantor, minta surat izin keluar.
Seperti itulah, apa yang kami jalani memang sulit ketika membandingkan dengan mereka yang tak perlu berizin seperti kami. Tapi siapa bilang itu mudah. Meski tak ada peraturan tertulis, mereka tidak selantasnya pulang pergi seenaknya. Sudah menjadi tradisi jikalau pengurus hendak keluar jauh, tak afdhol jika tidak sowan ke Romo Yai. Nah, saat itu juga perizinan akan diperhitungkan kemaslahatannya. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya memupus harapan demi mematuhi titah Romo Yai.
"Tenang saja, Mar! insyaallah, jika kau ikhlas, Allah akan selalu membantumu.
Seketika hatiku beguncang. Ada apa ini? Tadi Agus yang sok menerawang pikiranku. Sekarang Amir tiba-tiba saja nenghujamkan kalimatnya, tepat menyinggung kondisiku. Apa mereka berdua mengerti? Secepat itukah Haris bercerita pada mereka?
Sejak peristiwa semalam, aku tak bisa lagi tidur nyenyak. Otakku sibuk memikirkan apa yang akan terjadi. Benarkah aku bisa melakukannya? Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika timbul kekecewaan? Yang lebih mengganggu lagi, pertanyaan tentang, “Apa yang akan aku lakukan?” Pikiran itu terus saja mengerubungi otakku.
Sebelumnya, aku masih bisa tertawa lebar. Bersama teman sekelas, aku ikut serta dalam perlombaan takbir keliling malam itu. Kami yang mewakili komplek timur, mempertunjukan permainan obor dengan menyemburkan cairan minyak tanah dari mulut ke arah api sehingga menimbulkan semburan api yang besar. Sementara di belekang, teman-teman dengan atribut pakaian ihram, berbaris rapi seraya mengumandangkan takbir. Kami berkeliling ke seluruh penjuru komplek dan desa sekitar.
Dengan adanya takbir keliling, lebaran Idul Adha di pesantren menjadi nampak lebih meriah. Itu karena ribuan santri masih menetap di pondok. Berbeda saat lebaran Idul Fitri, hanya sebagian santri jauh saja yang masih tinggal. Selebihnya, merayakan lebaran di rumah masing-masing.
Tak ada perasaan apa pun di benakku kala itu. Hanya saja Haris sibuk mencari-cariku saat takbir keliling berlangsung. Ia tak tahu kalau aku juga ikut di sana. Bahkan para peserta perwakilan kompleknya ia tinggalkan sejenak demi mencariku. Sampai acara selesai, ia baru menemukanku di bawah tangga komplek timur.
"Kamu dipanggil Romo Yai."
Seketika aku langsung bediri. Tak butuh kalimat apa pun untuk menjawabnya. Dia segera pergi menuju ndalem Romo Yai, dan aku berjalan mengikutinya dari belakang. Langkahnya lumayan cepat. Saat itu juga otakku mulai tak karuan. Kenapa tiba-tiba Romo Yai memanggilku? Hatiku semakin gelisah ketika menyadari bahwa Haris telah mencariku sepanjang acara tadi. 
"Tunggu di sini! aku akan menemui khadamnya dulu."
Aku mengangguk. Dia beranjak menuju halaman samping. Tak berselang lama, seorang pemuda bersongkok putih keluar menemuinya. Mereka berbincang bincang sebentar. Pemuda itu terlihat santun. Belakangan aku mengetahui namanya adalah Syarif, khadam Romo Yai yang baru sebulan mengabdi.
"Beliau sudah istirahat. Kita sowan besok saja," ucap Haris padaku. Ia menolehkan kepala ke kiri, memberi isyarat agar kami segera kembali.
"Apa yang beliau kehendaki?" Aku mulai berani mempertanyakannya. Haris menghela nafas sejenak, lalu mengarahkan pandangan ke arahku.
"Sepertinya tidak baik jika aku katakan sekarang. Yang jelas, beliau butuh pengabdianmu di pesantren ini."
Seketika aku terhenyak. Pengabdian apa? Apa yang bisa aku lakukan? Hatiku terus saja mepertanyakannya seakan-akan wiridanku adalah pertanyaan pertanyaan seputar apa mungkin? bagaimana? kenapa? Sampai menjelang subuh tiba, otakku masih tak bisa berfikir tenang. Teman-teman yang sebelumnya merencanakan pergi ke rumah Yazid tidak lagi aku perdulikan. Tak mungkin aku akan keluar pondok, sementara aku masih punya tanggungan sowan kepada Romo Yai.
Setelah shalat id, Haris sudah siap di samping mushola, menungguku untuk sowan ke Romo Yai. Beberapa santri dan alumni sudah mulai bergerumun membuat barisan kelompok di depan ndalem. Masing-masing membentuk sebuah kepungan yang terisi sekitar tujuh orang. Beberapa dari mereka mengkordinir jalannya nampan berisi makanan yang dibagikan dari ndalem agar terbagi secara merata.
"Kita tunggu saja beliau keluar dari mushola," ucap Haris. Maksudnya, agar aku tidak ikut menikmati hidangan itu dulu sebelum sowan ke Romo Yai.
Namun lagi-lagi kami gagal menghadap beliau. Salah seorang santri memberi kabar bahwa Romo Yai sedang shalat ‘Id di pesantren lain. Alhasil, bertambahpanjanglah pertanyaan-pertanyaan semalam di pikiranku. Alih-alih mencari perhatian lain, aku melanjutkan rencana teman-teman yang hendak pergi ke rumah Yazid. Di rumahnya ia mendapat banyak jatah daging qurban untuk kami sate rame-rame. Oleh karenanya, kami sempat akan nekat keluar tanpa izin sebelum akhirnya mengetahui bahwa perizinan diperolehkan.
Tapi bukannya beralih pikiran, mereka malah menambah panjang daftar pertanyaanku. Entah apa yang membuat Agus dan Amir berkata demikian. Aku tak mau menambah rumit. Segera aku beranjak mengambil nasi dalam kendil untuk menghindar dari perbincangan dengan mereka. Sudah terlalu banyak sate yang matang. Saatnya makan bersama.
Hanya sedikit ababa-aba, mereka yang berada di ruang sebelah dengan cepat merapat. Satu nampan besar berisi nasi dan puluhan tusuk sate itu dengan cepat dikepung oleh tujuh anak yang sudah lapar sejak tadi.
"Betapa senang kau, Amar! Besok sudah tak perlu lagi kesulitan izin seperti kami."
Sungguh kata itu begitu menohok. Tak kusangka, bukan hanya Agus dan Amir saja yang sok tahu tentang urusanku. Di sela-sela makan, Mahfud dengan entengnya berkata demikian. Ada apa ini? Kenapa mereka kompak?
"Sudahlah, tak usah salah tingkah. Kita sudah menginjak di kelas akhir. Wajar jika banyak di antara kita yang diminta berkhidmah. Haris contohnya," lanjutnya. Sejenak ia menyikat setusuk sate, lalu meneruskan kembali suapan nasi di tangannya.
Aku pasrah. Nampaknya mereka sudah tahu. Tak masalah mereka tahu dari siapa. Aku Tak memperdulikannya. Hanya saja rasa cemas dan penasaran tetap saja mengusik pikiranku.
"Dari mana kau tahu tentang itu?" Aku mulai angkat bicara. Sebenarnya aku ingin sejenak melupakan perihal ini. Mengalihkannya dengan menikmati sate bersama mereka kurasa hal yang tepat. Tapi justru mereka malah membahasnya.
"Semua orang tahu itu," jawab Amir.
Aku menghela nafas. Kuhentikan sejenak suapanku.
"Sayangnya aku belum tahu apa yang akan kulakukan."
"Kau ini ngomong apa? Di kantor yang seperti itu, belum tahu yang akan kau lakukan?"
Aku terperanjat. Sedikit terbengong mendengar perkataannya. Seberapa jauh Amir mengetahui informasi ini? Aku pun tak tahu perihal apa pun mengenai kantor.
“Oh, mungkin kau belum tahu. Kantor itu benar-benar butuh redaktur baru. Semalam Ust. Riski menghadap Romo Yai, meminta restu untuk menarikmu masuk ke redaksi. Jelas-jelas tugasmu ya nulis. Mereka berharap kau bisa berkhidmah di majalah pesantren kita.
Istahilagi


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih telah berkomentar