Kamis, 16 Oktober 2014

CERPEN; Aku Dan Nyawa Ibu


Aku masih berada di ruang yang gelap, merengkuh tak berdaya. Di luar sana suasana sudah sangat mencekam. Deretan rumah –juga rumahku- lima menit yang lalu, yang berdiri kokoh, kini sudah tak tersisa lagi.  Hanya tertinggal puing-puing bangunan yang beberapa berlumuran darah. Bau anyir, apalagi, tercium menyengat di setiap sudut kehancuran. Membuat banyak pasang mata tak bisa membendung derasnya cairan-cairan kesedihan. Jeritan tangis beradu kencang dengan suara ambulan yang datang. Rupanya sopir-sopir itu cekatan membawa pasien-pasien ke rumah sakit. Bolak-balik tanpa kenal lelah.
Aku tahu di sudut sana ada potongan tangan ibu yang berlumur darah.  Ayahlah yang pertama kali menemukannya. Ayah tahu itu dari cincin yang melekat di jarinya, yang Ayah berikan saat hari pernikahan kalian dulu. Sungguh kali ini mata Ayah tak kuasa menahan tangis.
Tidak. Jangan, Ayah! Tidak seharusnya Ayah menangis. Bukankah Ayah lelaki yang tangguh. Ayah adalah seorang pahlawan. Kau Pahlawan kami, Ayah. Satu jam yang lalu, sebelum Ayah sampai di tempat ini, Ayah baru saja melakukan hal yang luar biasa. Mereka yang datang dengan raungan-raungan menakutkan di udara, yang sesekali menjatuhkan rudal, juga barisan-barisan tank yang siap membumi ratakan permukiman kita, Ayah dan pasukan lainya telah membuat mereka menarik mundur tentara mereka. Bukankah itu menakjubkan?  
Kenapa, Ayah? kau menggeleng. Apa Ayah mendengarku? Tidak, tidak mungkin. Tidak mungkin engkau mendengarku. Ya ampun, rupanya aku salah atas ucapanku tadi. Ayah benar, bukan Ayah yang melakukan semua itu. Tidak sekalipun kecuali atas pertolongan dari-Nya. Ledakan itu. Bukankah Ayah dan pasukan lainya tidak meledakkan apapun?
Sebelumnya kalian sempat khawatir terhadap pasukan musuh yang berjumlah besar. Ayah dan para mujahidin lainnya sudah terjepit. Itu adalah saat-saat genting yang paling menakutkan. Tapi tidak ada satupun dari kalian yang merasa gentar. Kalian tetap berani menghadapi mereka. Itu adalah sifat yang paling aku kagumi. Bahkan meski aku belum melihat Ayah sekalipun, aku sudah  bercita-cita ingin seperti Ayah. Aku bermimpi bisa berjihat bersama kalian. Bukankah itu hebat, Ayah?
Waktu itu Ayah dan pasukan lainya terus berdo’a agar misi kalian berhasil. Namun naas, salah satu pesawat mata-mata memergoki kalian saat kalian tengah memasang ranjau untuk meledakkan tank-tank mereka. Tanpa menunggu beberapa menit lagi, pesawat itu pun langsung menjatuhkan bom-bom tepat ke arah kalian. Tapi tidak disangka, kalian ternyata masih selamat. Syukurlah rupanya Tuhan masih menghendaki kalian hidup. Itu masih salah satu pertolongan dari-NYA. Aku tahu bahkan masih banyak lagi pertolongan-pertolongan selain itu.
Tidak lama kemudian apa yang –sebagian dari– kalian cemaskan pun terjadi. Tank-tank musuh mendekat ke lokasi di mana kalian menanam ranjau tadi. Mereka berhenti tepat di atas bahan peledak itu. Itu adalah hal yang menyedihkan. Tentu saja ranjau-ranjau itu tidak akan meledak mengahuncurkan mereka. Kabel yang kalian ulur tadi telah putus akibat serangan bom. Tentulah sia-sia meski mereka berada tepat di atas lokasi itu. Sungguh merupakan pemandangan yang memilukan. Bahkan diantara kalian ada yang menangis. Sebagian yang lain berdo’a: “Allahumma kama lam tumakkinna minhum, allahumma la tumakkin lahum,”  (Ya Allah, sebagaimana engkau tidak memberikan kesempatan kami menghadapi mereka, jadikanlah mereka juga tidak memiliki kesempatan serupa)
Ayah dan pasukan lainnya pasti yakin do’a kalian akan didengar oleh Tuhan. Tidakkah Ayah tahu setelah peristiwa itu para pasukan musuh ketar-ketir memboyong tentara mereka yang tewas akibat ledakan itu. Mereka menarik pasukan dan pergi dengan kerugian yang amat besar. Tidak disangka di tempat penanaman ranjau itu ternyata terdengar ledakan yang amat dahsyat. Kalian pasti berfikir ranjau kalian telah berfungsi dengan ajaib. Kalian ucapkan ribuan puja dan puji syukur kepada-Nya. Tapi kalian salah, bukan itu keajaibannya. Ranjau kalian tidak meledak. Kalian masih melihatnya utuh seperti sedia kala. Lalu, apa yang meledak? Wallahu’a’lam, kalian tentu mengerti betapa Tuhan menyertai kalian.
Tapi betapa Tuhan juga sayang sehingga lantas menguji Ayah dan pasukan lainya dengan berita yang tidak terduga sebelumnya. Yah, rumah kami hangus terbakar oleh dentuman rudal yang terus memberondong -seperti hujan besi- dari langit. Hampir semua permukiman rata dengan tanah. Ibu sudah kepalang tanggung terjebak di dalam rumah, tidak  bisa secepat mungkin menyelamatkan diri. Apalagi gerakannya sudah tidak bisa selincah sebelumnya, karena aku yang mungkin menjadikan beban baginya. Ah, tapi Ibu gak pernah merasa terbebani, dia sangat sayang kepadaku. Itulah kenapa surga ada di telapak kaki Ibu. Betapa aku sangat mencintainya meski tak sebanding dengan sayangnya ia kepadaku. Pengorbananya begitu besar apalagi dalam masa seperti ini. Dan tentunya Ayah juga sangat menyayangi kami. Terlihat jelas dari biasan air mata yang menetes dari pipi Ayah.
Sudahlah, Ayah! Berhentilah menangis! Kau sudah berjuang membela kami. Bukan berarti kami naas karena Ayah lalai menjaga kami. Ayah bahkan mengemban misi yang lebih besar, membela tanah kelahiran kita dari tangan-tangan zionis yang tak berperikemanusiaan itu. Andai saja aku bisa, aku pasti akan memeluk Ayah. Mengucapkan banyak terimakasih, mengobarkan kata semangat, dan tentunya membisikkan sesuatu ditelinga Ayah: “Aku cinta kau, Ayah!”.
Aku masih ingat -ah, ini juga tentu hanya ingatan maya- betapa bahagianya Ayah ketika mengetahui Ibu hamil pertama kali. Yah, akulah itu. Oh, ya, Ayah pasti bertanya di mana tubuh Ibu sekarang, sedangkan Ayah hanya menemukan sepotong tangannya. Jangan cemas, Ayah! Ibu sudah tersenyum tenang bersama para syuhada’ lainya. Dan aku? Bagaimana denganku? Tentu saja Ayah juga tahu, betapa aku tak sedikitpun mengenal gudang dosa yang sudah berumur tua ini.
Di sebelah Ayah sekarang sudah berdiri beberapa pasukan kuat yang gagah perkasa. Sudahlah, Ayah! Kembalilah berjihad bersama pasukan-pasukan itu. Mereka telah menanti wajah semangat Ayah kembali. Tidakkah Ayah tahu, mereka sudah sedari tadi mengevakuasi para syuhada’ sedangkan Ayah masih larut dalam kesedihan. Baiklah, jika bebat kesedihan memang tak bisa Ayah lepaskan begitu saja –tentu butuh waktu yang lama karena engkau sangat mencintai kami- , setidaknya sekarang Ayah sudah bisa memandang kondisi kami. Salah seorang dari pasukan-pasukan itu sekarang telah menemukan jasad Ibu. Lihatlah, Ayah! Ibu tersenyum manis kan?  Lihatlah! Meski tangannya hanya tinggal satu, tapi dia tetap setia mendekap perutnya. Senantiasa menjagaku meski tentu saja aku hanya mengikuti nyawa Ibu.

*Sebagian cerita diadopsi dari kisah nyata keajaiban perang di Gaza


Duta Masyarakat, 14 September 2014

Istahilagi
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih telah berkomentar