Sabtu, 25 Mei 2013

Cerpen Santri : Bintang Fajar


Kau tidak lagi segagah dulu, pundukan otot di lenganmu yang dulu sangatlah kekar kini melembek.  Dadamu yang dulu selalu membusung bahkan  kini tak kuasa lagi untuk menahan berat kepala dan lehermu. Memang dia itu kejam, telah sedikit demi sedikit merenggut apa yang engkau miliki, rambut hitammu, kulit kencangmu, suara gaunganmu, tapi sebelum ini kau masih tetap memiliki satu hal yang dapat membuat hidupmu sedikit berarti untuk dijalani, iya kau masih bisa tersenyum, tanda bahwa hatimu masih luas dan penuh semangat.


Kau pandangi langit-langit rumahmu yang sudah lapuk dengan pandangan yang kosong, matamu nan sipit karena lelah berpuluh-puluh tahun memandang semakin sayu. Kau tak pedulikan tiupan angin sore yang menerpamu dari sela-sela sesek rumahmu. Kau sudah terlalu dalam memikirkannya sehingga tiada kau hiraukan apa pun yang ada di sekitarmu.

Sudah beberapa hari ini pula kau menjadi malas makan, tubuhmu yang sudah kurus kini tinggal berbalut dengan kulit tanpa ada seongok daging yang menghiasi. senyummu satu-satunya itu pun telah kau tanggalkan, kau sungguh sudah tidak kuat lagi menahannya. Nampak dari sinar matamu bahwa kau sedang melawan syetan yang membuat semangat hidupmu menjadi hilang, kau kadang bisa menang dengan tidak menggubrisnya dan selalu mencari apapun yang dapat membuatmu tesenyum, tapi kau tetaplah manusia, kadang kau kalah tak berdaya menghadapi serangannya yang bertubi-tubi, kau lemah dan tak semangat hidup, tergeletak tak berdaya di atas ranjang bambu yang setia menemanimu berpuluh-puluh tahun.

“Diam kau, aku sudah bosan mendengarkan ceramahmu.”
“Kau itu anak yang bagaimana, tidak punya perasaan, apa kau tidak pernah mikir, kau pulang hanya untuk minta uang, kau buat apa uang itu?, kata tetangga kau selalu main judi dan sering terlihat mabuk-mabukan.”

“Kau ceramah lagi, bosan aku kau ceramahi terus sejak kecil, tidak pernah kau menganggap aku ini benar, semua salah di matamu . lihat itu sang putrimu yang selalu kau sayangi, kini dia memberikan apa buatmu?, aku yang hanya kau anggap sebagai sampah sejak pertama lahir tidak akan berubah setatus di matamu, sekali sampah tetap sampah, seharusnya dulu kalau kau tidak menginginkan kehadiranku kau tidak usahlah melahirkanku. Aku berbuat baik kau pun tidak bangga, tidak pernah kau merasa bahagia, kenapa sekarang kau merasa malu kalau aku berbuat buruk.”

“Dengarkan itu, apa yang diucapkan “pangeranmu”, bahkan dia berani membentak dan membantah orang yang melahirkannya ke dunia.”

“Biarlah dia begitu, janganlah kau marahi terus anak laki-lakimu itu, apa kau tidak lelah, sejak dahulu selalu memarahinya, kau selalu menyalahkannya, semua apa yang dia perbuat selalu salah di matamu. Apa kau tak sadar, bahwa kau telah dengan tidak langsung mengajari anak laki-lakimu itu untuk melawanmu dengan selalu menanamkan kebencian di dalam hatinya kepadamu.”
“Terus sana…bela terus anak laki-laki kesayanganmu. Biar aku akan pergi saja”

Kau hanya bisa terdiam dan tiada mampu menggapai tangannya untuk mencegahnya meninggalkanmu, sosok berambut panjang yang berpuluh-puluh tahun ini telah menemanimu kini telah lenyap di antara fatamorgana jalan desa. Dia pergi meninggalkanmu. Tapi apa yang dapat kau perbuat, padahal niatanmu hanyalah untuk mengingatkannya agak tidak terlalu membenci anak sendiri, kau juga sudah bosan dan tidak tega melihat anak laki-lakimu yang sejak kecil seakan-akan menjadi anak tiri dari ibu kandungnya sendiri, selalu dimarahi, tidak pernah dihargai apa yang telah menjadi prestasinya.
“Begitulah, jika anak itu terlalu dikerasi, dia akan malah mebencimu”, gumammu dalam hati.
@@@

Kini kau hanya sendiri, anak laki-laki yang kau bela kemaren ternyata juga tidak seperti apa yang kau harapkan, dia bukannya berterimakasih kepadamu, lalu memelukmu, tapi dia malah ikut henyak dan dengan teganya meninggalkanmu. Kini memang kebencian yang tertanam dalam hatinya telah mebutakannya, semuanya dia benci, dia benci keluarga ini, dia benci semua orang yang ada di rimah ini.

Sejenak pikiranmu tertuju kepada sosok wanita muda berparas ayu, berambut panjang dan hitam, sang putrimu tercinta.
“Nak kemana kau sekarang?”
Anak perempuanmu yang selalu mendapatkan perlakukan yang berlawanan dengan adik laki-lakinya itu sekarang juga tidak kau ketahui rimbanya, dia terlalu dimanja oleh ibunya, sehingga kini dia juga sangat susah diatur, bahkan dia jauh lebih parah daipada adik laki-lakinya. Kabar terakhir dari tetangga yang melihatnya adalah dia sekarang berada di desa sebelah yang terkenal sebagai desa yang menyediakan perempuan sebagai pemuas nafsu. Anak perempuanmu itu katanya dijumpai sedang duduk dipangku oleh seorang lelaki separu baya, dia berpakaian yang sangat seksi, dan berdandan yang sangat menor, ya dia menjajakan dirinya. Lagi-lagi dalam hatimu kau menyalahkan istrimu yang terlalu memanjakannya sehingga dia melonjak dan sekarang tidak karuan.  

Dadamu mulai menyempit, sesak terasa dalam dadamu, kau seakan kesulitan untuk menarik udara ke dalam paru-parumu. Dalam pikiranmu itu kau merasa telah menjadi orang yang paling bodoh, kenapa kau biarkan dulu ibu mereka mendidiknya dengan cara seperti itu.

Perutmu mulai perih, seakan tidak lagi mampu untuk beroprasi, detak jantungmu tidak lebih cepat dari jarum detik yang ada di jam dinding di rumahmu, pelan memompa darah yang juga sudah tidak jernih lagi karena sudah tidak dicukupi nutrisinya dengan makanan yang bergizi.

Matamu mulai buram dan akhirnya tertutup dan gelap. Kau taksadarkan diri. Dalam kesendirian kau tergeletak di lantai rumahmu yang seakan sudah menjadi neraka bagimu, kini kau bisa apa.
@@@
Kau rasakan ada sapuan di keningmu, kau buka matamu, kau lihat ada sesosok perempuan yang tidak asing lagi di matamu, wajah itu sudah berpuluh-puluh tahun menemanimu. Sentuhan itu juga sudah sangat kau hafal beul.
“Mas, kau sudah siuman?, kamu sudah tiga hari ini tidak sadarkan diri.”

Dari matanya seakan dia memang sudah sadar, dan tulus ingin kembali, dia juga sudah mebuktikannya dengan merawatmu selama tiga hari ini.
Air matanya yang meleleh dari mata sayunya juga sebagai penguat, bahwa dia benar-benar menyesal telah meninggalkanmu. Tapi kau malah menarik nafas panjang dan kemudian memejamkan matamu kembali, seakan kau belum bisa percaya dengan apa yang ada di depan matamu.

Hatimu yang dalam telah menyuruhmu untuk memaafkannya. Tapi, seakan seluruh anggota tubuhmu telah menolaknya kembali, ada rasa takut dalam hatimu, takut untuk menerima kenyataan hidup, kegagalanmu memimpin keluargamu, mengarahkan istrimu, anak laki-laki yang kini telah suka berjudi dan mabuk-mabukan, anak perempuan yang kini telah menjajakan dirinya kepada setiap laki-laki hanya untuk mencari kepuasan dan harta belaka.

Kau enggan lagi untuk menghirup udara, hidungmu seakan sudah menyerah untuk kau ajak menghirup udara, lambungmu juga tidak lagi bisa kau gunakan untuk mengolah makan yang masuk. Selalu apa yang disuapkan selalu kau kembalikan lagi, semua anggotamu sudah tidak mau lagi kau ajak bergerak, tinggal mata itu saja yang dapat kau paksa untuk melihat dunia ini.

Di atas ranjang bambu, ditemani dengan kekasih tuamu, kau hirupkan nafas-nafas kegundahan, nafas jatah terakhir yang sebenarnya sudah tidak kau harapkan lagi, karena kau sudah menyerah untuk bisa bertahan hidup, yang kau inginkan hanyalah lepas dari semua belenggu rasa bersalah dan kebencian  yang berada dalam dirimu. Kau menyerah. Dalam nafas yang tersendak kau teringat akan satu kalimat, “Lailaahaillallah.”[]
By: ufiy alpersie

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih telah berkomentar