Senin, 27 Mei 2013

Cerpen Santri : Air Mata Syaikhina



Tiba-tiba saja beliau datang dengan tongkatnya sambil terbatuk-batuk kecil menaiki tiga anak tangga di pintu utara sebelah timur mushola agung Langitan, aku yang menyandar santai di daun pintu utara sebelah timur itu pun dengan segera menata sikap, duduk timpoh atau semacam duduk iftirosy dalam sholat. Aku melihat wajah teduh beliau begitu serius, semakin mendekatiku dan aku semakin dag-dig-dug, aku memang selalu ndredeg ketika harus berhadapan langsung dengan orang yang sangat aku kagumi dan aku muliakan seperti Mbah Yai, dan lebih ndredeg lagi kali ini karena beliau yang datang mendekati.
Awakmu kelas piro?
Aku masih dalam kendredegkanku.
“Ke..ke..ke..las ka..leh A..li..yah.”
Dengan terbata aku menjawab, namun mungkin suaraku terlalu pelan yang entah kenapa tiba-tiba saja dahak mengumpul di tenggorokanku seakan serak tak bisa jelas untuk bicara, lagi-lagi sindrom ndredeg yang kerap melandaku.
“Kelas piro?”
Beliau mengulangi pertanyaannya, dan aku pun mengulangi jawabanku dengan suara lebih keras sedikit seraya berusaha agar ucapanku terdengar sejelas mungkin.
Wajah beliau tampak begitu tegang saat sesekali aku angkat pandanganku, tapi lalu aku tundukkan lagi, rasanya pantulan cahaya dari wajah beliau membuatku tak sanggup untuk memandangnya langsung, apa lagi lama. Setelah itu beliau menyuruhku mengambil kitab Fathul Mu’in karangan Syeikh  Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari yang terselip di antara jejeran kitab-kitab kuning yang tertata rapi di laci mushola, kitab-kitab yang sebanyak itu entah siapa tuannya, mungkin beberapa santri yang malas membawa kitabnya kembali ke kamar setelah mengikuti pengajian. Sehingga untuk menjaga suasana mushola tetap bersih dan rapi, disediakanlah laci-laci kecil itu di beberapa bagian mushola. Sambil berjalan agak merangkak aku pun mengambil kitab itu dengan terus dag-dig-dug, sibuk menduga-duga dalam hati, jangan-jangan aku dites baca kitab oleh Mbah Yai, waduh bagaimana ini. Aku semakin takut sendiri.
Aku pun menyodorkan kitab itu penuh ta’dzim, beliau membolak-balik halaman demi halaman kitab yang sudah agak usang mungkin karena sudah terlalu lama tidak digunakan oleh sang pemilik, atau malah pemiliknya lupa di mana dulu pernah menaruh kitabnya, sehingga lama, tidak ketemu dan berdebu. Sesekali beliau meniup debu-debu yang menempel ringan di kitab itu, aku masih menundukkan diri di hadapan beliau yang duduk bersandar di tiang mushola, posisinya sama persis ketika beliau membuka pengajian kitab-kitab kuning kepada para santri, menghadap ke barat. Sementara itu, aku masih terus merasakan keteganganku tadi yang berangsur-angsur hilang, mungkin Karen aura positif yang dipantulkan Mbah Yai, sehingga aku pun merasakan kenyamanan dan ketenangan menghapus keteganganku, karena memang ketika kita bersama orang alim yang dekat dengan Allah pasti hawanya sejuk, damai, pokoknya sangat nyaman, dan itu aku rasakan saat itu, saat aku berdekatan dengan Mbah Yai.
Iki wocoen..!
Aku tertegun, ketakutanku terbukti, aku disuruh membaca barisan Fathul Mu’in yang masih kosong itu. Aku tak mau mengecawakan beliau, aku tetap harus berusaha untuk mengeja lafadz demi lafadz yang kayaknya belum sampai situ pelajaranku di Aliyah.
Bismillahirrahmanirrahim...
Detik-detik pertama aku berada di titik aman, belum ada kalimat yang membuatku asing sehingga harus tersendat. Aku masih menikmati bacaanku itu. Mbah Yai pun, saat sesekali aku mendongakkan pandanganku, beliau seperti tersenyum simpul, dalam hatiku; Semoga beliau puas dengan bacaanku. Setelah cukup panjang qodliyah kalimat yang aku baca, beliau pun memintaku untuk berhenti dan lalu kemudian menjelaskan maksud dari apa yang aku baca tersebut. Kebetulan sekali bab yang aku baca adalah bab zakat harta, dan terus terang saja, aku sampai sekarang masih sering memegangi kepalaku karena pusing saat harus mencerna satu persatu ungkapan-ungkapan yang berkaitan dengan bab ini, dan kali ini aku harus menjelaskannya di hadapan beliau, Mbah Yai. Aku mulai terbata, karena memang aku tidak yakin bisa, kalau sekadar terjemah mungkin aku masih bisa diandalkan tapi murodnya, aku benar-benar takut.
Mbah Yai tampak mengerutkan keningnya, seakan penuh tanda tanya, apakah santri-santrinya yang lain juga sama sepertiku, tidak bisa menggambarkan sebuah keterangan kitab. Kali ini Mbah Yai mulai angkat bicara, karena melihatku yang dari tadi hanya terbata-bata, berputar-putar tanpa kejelasan. Aku semakin tertunduk, aku telah membuat Mbah Yai kecewa, terlihat air matanya menggenang, seakan ingin tumpah dan menangisi santri sepertiku ini. Aku hanya bisa mengiyakan dawuh-dawuh Mbah Yai, aku tak bisa berkutik lagi.
Isoho rumongso, ojo rumongso iso..
Dengan tanpa basa-basi lagi, beliau meninggalkanku yang masih tertegun, menamparku dengan kekecewaan yang tercermin di raut wajah beliau yang tampak menahan air matanya karena kebodohanku. Dan aku, tiba-tiba saja air mata menetes perlahan ikut menangisi diriku, menangsisi tangisan rasa kecewa Mbah Yai. Aku memang selalu begitu, merasa puas dan merasa bisa, aku pun membenci sifatku itu, sangat benci, tapi entah, tak bisa aku melawan itu.
“Mat...Mat...kamu kenapa Mat...??”
Aku pun terperanjat, ibu membangunkanku karena ibu melihat aku sesenggukan dalam tidurku.
“Istighfar...Mat....istighfar....”
Sambil ibu memberikanku segelas air putih.
Ternyata aku mengigau. Sudah hampir satu minggu ini aku selalu mimpi seperti itu, bertemu Mbah Yai, disuruh baca kitab, tidak bisa dan lalu menyaksikan kekecewannya. Hatiku benar-benar resah.
@@@
Dua minggu lalu aku memutuskan untuk pulang, boyong, pasca kepergian Mbah Yai. Karena hampir selama 40 hari dari kepergian beliau aku selalu menangis tiba-tiba saja, terus merasa bersalah dan menyalahkan diriku yang selama ini menjadi santri yang tidak bisa membanggakan Mbah Yai, bahkan lebih sering mengingkari kehendaknya. Karena entah kesedehanku ditinggal Mbah Yai, atau karena penyesalanku yang datang terlambat baru setelah Mbah Yai wafat, aku seakan kehilangan arah, aku tak tahu harus melakukan apa, sampai-sampai belajar dan mengaji yang menjadi kewajibanku begitu berat untuk aku jalankan. Hari-hariku berlalu begitu saja, kutahan-tahan untuk tetap bertahan di sini, tapi aku tak bisa, aku sudah benar-benar tak tahu apa yang harus aku perbuat. Setiap malam aku habiskan hanya dengan menangis tak berguna di sisi pusara Mbah Yai, mengadukan penyesalanku selama ini, bukan tambah selesai, tapi semakin hatiku rapuh, remuk tak berkeping.
Dan, rasa sesalku juga karena sejak tahun ajaran baru lalu yang sebenarnya aku sudah berniat untuk berusaha melanggengkan untuk sowan pada beliau, tak lain ingin mendapat luberan berkah juga rasanya ingin sekali dikenal beliau, meski hanya kenal wajah, syukur-syukur bisa mengenal namaku. Tapi aku pun sadar, bagaimana beliau akan mengenalku, sementara aku tak mengenal beliau, tak tahu apa yang beliau mau padaku, tak tahu karena aku yang selalu tidak mematuhi beliau, diam-diam selalu mengecewakan beliau, membuat air mata beliau dan menyakiti beliau. Belum dua minggu aku menjalankan misiku untuk melanggengkan sowan beliau, dengan baju yang sama, waktu yang sama, agar lebih mudah untuk diingat oleh beliau, aku harus mendengar berita beliau jatuh sakit, hingga sakit itu lama, lama sekali. Bersamaan itu, hatiku juga semakin sakit, bukan sakit hati, tapi hati yang mengidap penyakit, karena lama dawuh-dawuh  Mbah Yai tidak menegurku, karena lama wajah teduhnya tak menyejukkanku, sehingga hatiku kering kerontang, kosong tak terisi.
Aku manahan rindu akan kesembuhan Mbah Yai, yang juga menjadi do’a santri-santri Mbah Yai yang lain, entah rasa rindu itu begitu terasa, bahkan sangat terasa, membuat langkah-langkah kecil yang didorong oleh niat-niat nakal mencoba menembus peraturan-peraturan yang pernah ditetapkan Mbah Yai berangsur pudar, meski sulit jika harus sirna begitu saja.
Berhari, berganti minggu dan bulan, Mbah Yai masih dalam kondisinya. Membuat rindu itu semakin menggebu, membentuk satu nostalgia, memutar memori saat beliau dengan segala kesabaran dan ketelatenan menemani para santri-santri bandel sepertiku, dawuhnya yang menenangkan, senyumnya yang menyejukkan, semua itu rasanya ingin agar segera kembali.
Namun, sungguh seakan hari itu kiamat, angin berhenti, langit mendung kelabu dengan tangisnya yang membisu. Memulai hari-hariku yang hampa, yang penuh duka nestapa, penyesalan yang tak pernah ada hentinya, yang mampu merubah segalanya.
Dan setelah 40 hari aku menahan kegalauan hati yang begitu dahsyat, yang melumpuhkan segala kebisaanku untuk tetap bertahan hidup, aku pun sowan kepada para masayikh, putra-putra Mbah Yai yang kini melanjutkan estafet perjuangan Mbah Yai. Awalnya aku tidak diperkenankan pulang, dan aku pun berkali-kali mencoba bertahan sebagaimana yang didawuhkan para putra Mbah Yai, aku tidak bisa, hingga akhirnya aku diizinkan untuk pulang dengan catatan harus kembali jika semua sudah pulih. Aku pun masih sangat cinta dengan Langitan, aku pun masih ingin bisa kembali lagi, tapi tidak untuk saat ini. Aku benar-benar tak sanggup.
@@@
Setelah mimpi itu, aku atas hasil musyawarah keluarga, memutuskan untuk kembali ke Langitan, sebab sepertinya Mbah Yai begitu kecewa padaku yang putus di tengah jalan begitu saja hanya karena kepergian beliau, Mbah Yai tidak ingin aku menjadi orang yang setengah, sehingga aku harus tetap kembali, aku tak mau jika akulah menjadi penyebab berlinangnya air mata Mbah Yai, aku ingin Mbah Yai bangga dan tersenyum di sana melihat santri-santrinya, cukup aku mengecewakan Mbah Yai selama ini, jangan terulang lagi kebodohanku. Aku pun kembali ke Langitan, aku sowan dan menyampaikan perihal mimpiku tempo hari.
Keyakinanku semakin mantap untuk kembali melanjutkan belajar di Langitan, dan itu disambut luar biasa setelah aku sowan, bahkan beliau salah satu putra Mbah Yai menghendaki aku agar ikut di ndalem, ikut membantu keluarga Mbah Yai dalam hal apa saja yang butuh dan bisa aku lakukan. Aku  untuk kembaliku yang kedua ke Langitan, kini aku memutuskan untuk berkhidmah pada keluarga Mbah Yai, karena aku tak mau mengulang kedua kalinya, menyesal untuk kesekian kalinya, tidak bisa berkhidmah pada Mbah Yai waktu itu, sekarang saatnya aku melakukan sesuatu bagi keluarga Mbah Yai.
Dan, mimpi itu, aku berjanji untuk tak lagi membuat air mata Syaikhina.
Pojok Kesan Langitan, 17 Desember 2012

( penulis adalah salah seorang anggota redaksi Majalah Langitan dan Majalah Harokah)
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih telah berkomentar