Selasa, 04 Oktober 2016

Cerpen Gak Jelas





Satu cangkir kopi sudah habis diseruput. Tangannya masih tak bisa berhenti menggaruk-garuk rambut. Jadinya, rambut itu semakin acak-acakan. Sama kayak tulisan yang baru separagraf diketiknya. Berantakan.
Sejenak ia ngaso. Memainkan game di laptopnya. Tapi porsi bermain menjadi lebih banyak dari berpikirnya. Ia lalu berhenti setelah merasa puas. Kembali lagi menatap huruf-huruf kecil di layar.
Sebenarnya Mukidi hanya asal nulis. Tak tahu mau menulis tentang apa. Dari satu jam yang lalu dia hanya berdiam sendiri. Menatap langit-langit, memegang-megang janggut, menyeruput kopi yang sudah tinggal ampas, tapi belum juga tulisan itu kelar. Jangankan kelar, berjalan satu paragraf saja masih mending.
Terpampang di kepalanya gambaran sebuah latar cerita yang menakjubkan. Lalu, dengan alur yang dibikin penasaran, ia yakin itu akan menjadi sebuah cerita yang keren. Semangatnya berapi-api. Tapi, begitu meletakkan jari-jari di papan keyboard, ia kembali mematung. Diam, tak bisa menuangkan sepatah kata pun.
Setelahnya, ia mulai merasakan keraguan. Sepertinya cerita itu kurang tepat ditulis. Tanpa pikir panjang, ia membuang idenya barusan. Kembali lagi merenung untuk menggali ide baru.
Sebenarnya ia tak ingin membuang-buang waktu untuk menulis cerita yang tak jelas. Tapi gara-gara sesumbarnya tadi pagi, ia jadi harus membuktikan omongannya.
Hanya gara-gara pagi itu, di sela-sela jam istirahat, Mukidi meledek temannya yg sedang asik membaca novel. Kata-kata seperti; kurang ilmiyah, gak masuk akal, pembodohan, kebohongan yang dinikmati orang-orang alay, bacaan mubadzir, dan sebagainya, ia lontarkan dengan enteng.
Temannya yang tak terima bacaan favoritnya diolok tentu saja membantah. Jadilah perdebatan sengit antara mereka berdua di kelas. Adu gengsi tak terelakkan. Ujung-ujungnya, tak ada juga yang mau mengalah. Mukidi suka bacaan ilmiyah semacam; artikel, sains, buku biografi, terlebih buku-buku ilmu agama. Sementara temannya yang bernama Wakijan lebih suka buku-buku fiksi.
Sejurus setelah bersikeras meledek temannya, Mukidi lalu tersontak mendengar ucapan pembalasan; "Penulis non fiksi biasanya hanya membutuhkan waktu yang singkat untuk menyelesaikannya, tapi untuk cerita fiksi, mereka mencurahkan waktu dan pikiran yang banyak sehingga hasilnya lebih banyak yang menikmati."
Langsung saja Mukidi melonjak mendengar ucapan barusan. Tapi belum sampai balas berkata, Wakijan sudah buru-buru memotong; "Aku bisa menulis tiga artikel dalam sehari. Kalau kau mampu menulis satu cerpen saja dalam semalam, kau baru boleh berkata apa saja sesukamu."
Merasa terlecehkan, Mukidi pun langsung menerima tantangan itu. Dan lebih sombong lagi, ia sesumbar bisa menyelesaikan  dalam sore itu juga, sebelum matahari tenggelam.
***
Sejenak mukidi menarik kakinya, melangkah keluar. Sekedar jalan-jalan. Tidak berselang lama, setelah ke sana kemari, akhirnya ia menemukan gambaran cerita yang menurutnya bagus.
Hanya karena melihat kupu-kupu terbang, lalu hinggap di sekuntum bunga, dan tak lama nyawanya melayang karena seekor hewan pemangsa melahapnya, otaknya kemudian bersinar kinclong. Seperti ada lampu kuning menyala di atas kepalanya.
Mukidi bergegas kembali ke kamar supaya ide itu tidak hilang. Kembali ia letakkan jemari di atas kayboard. Satu-dua paragraf lumayan lancar. Senyumnya mengembang girang.
Sayangnya, setelah sampai tiga paragraf, ia mendadak berhenti menarikan jarinya. Pikirannya buntu lagi. Kembali mematung di depan laptop.
Dalam hening ia merenungi sebuah pemandangan yang sejurus lalu disaksikannya. Tadinya dia ingin menuangkan ide tentang hewan-hewan itu. Itu adalah potongan rantai kehidupan yang unik untuk diceritakan, menurutnya.
Tapi setelah dipikir-pikir, batinya kembali berkata lain. Ah, apa gunanya berlama-lama membuang waktu hanya untuk memikirkan perihal yang tak berguna. Hati Mukidi mulai syak. Menggumam kalimat penyesalan.
Sejurus setelah perenungan, ia tarik arah kursor dari atas menuju ke bagian paling akhir kalimat yang baru saja diketik. Tanpa pikir panjang, ia men-delete semua hasil kerja kerasnya sejak berjam-jam yang lalu.
***
Bunyi bel istirahat berdenting melengking di telinga.  Para siswa merombong keluar dari salah satu ruangan kelas dengan wajah gembira. Gembira? Ya. Siapa yang tak gembira bisa ngaso dari aktifitas harian, duduk di ruangan kelas dua aliyah, sambil mencerna penjelasan mantiq yang memutar-mutar otak.
Seperti yang diikrarkan pada hari sebelumnya, Mukidi yang sepanjang sore kemarin mengetik cerita fiksi, sekarang bersua kembali dengan Wakijan. Saling menagih janji.
"Kau tahu? Entah fiksi atau bukan, dalam dunia sastra atau jurnalistik, yang nomor satu adalah..." Wakijan yang memulai obrolan berhenti bercakap. Tangannya lebih dulu menyodorkan tiga lembar kertas ukuran F4.
Tak sabar menunggu ucapan temannya yang gak tuntas, Mukidi akhirnya menyahut duluan; "Yang terpenting adalah pesan di dalamnya."
"Betul sekali," jawab Wakijan spontan, "Tadinya aq mau ngomong itu," lanjutnya.
Sedikit tertegun dengan pembetulan temannya, sambil menggaruk-garuk kepala, dalam hati Mukidi bicara heran; 'kok pikiran kita sama ya..'
"Ini karyaku, tiga artikel seperti janjiku kemarin. Kau juga sudah bikin kan?" tagih Wakijan.
            “Tak usahlah kau tanya, Wakijan!  Aku sudah tentu mempersiapkannya.” 
Keduanya menyodorkan karya masing-masing -atau boleh dikata bertukar naskah. Terpampang jelas sebuah judul unik bertuliskan; 'Cerpen Gak Jelas'. Wakijan tersenyum setelah membaca sepenggal kalimat itu.
"Harusnya kita sadar. Nilai dari sebuah karya bukanlah seujar kata komentar, apalagi aplaus. Melainkan seberapa besar karya itu memberi manfaat bagi orang lain," ucap temannya.
Si penulis judul 'Cerpen Gak Jelas' mengangguk setuju. Ia sendiri memegang tiga naskah artikel milik Wakijan. Baru saja Mukidi membuka mulut, hendak angkat bicara, temannya buru-buru mengucap; "Penulis itu harus kayak kupu-kupu, kawan! Gak cuma memberi keindahan bagi yang memadang, tapi juga memberi kemanfaatan bagi kehidupan sekitar."
Mukidi mengernyitkan kening. Baru juga ia memikiran hal itu, ternyata sudah dicakapkan oleh Wakijan.
“Ah, kau ini ... kenapa kau juga berpikiran sama denganku, Wakijan?” celetuk Mukidi.
“Hei, berpikiran sama katamu? Apa kau juga mengalami kebuntuan sama sepertiku, lalu jalan-jalan dan melihat seekor kupu-kupu terbang hinggap di sepucuk bunga yang kemudian mati dimakan bunglon? Apa kau juga berpikir untuk menjadikan pemandangan itu sebagai inspirasi tulisanmu?” ujar Wakiijan panjang lebar.
Mukidi melongo. Tak disangka. Benar-benar persis dengan pengalamannya kemarin sore. Lidahnya hendak angkat bicara, tapi urung karena Wakijan kembali berlanjut cakap.
“Ah, kau bahkan tak akan berpikir bagaimana seekor hewan cantik bisa membantu penyerbukan sekuntum bunga sebelum akhirnya tewas. Itulah mengapa aku berpikir bagaimana sebuah karya bacaan ini bisa memuat porsi kemanfaatan, bukan hanya keindahan, sebelum penulisnya hilang hayat.”
            Mukidi semakin melongo. Tak habis pikir, jalan otaknya benar-benar sejalur dengan kawannya yang satu ini.
            “K.k.k.kau... Jangan-jangan tulisanmu ini cerpen semua. Benarkah?” tanya Mukidi, menebak.
Wakijan mengernyit dahi. Dia memandang lamat-lamat sebuah naskah ditangannya. Dengan menampakan wajah tak percaya, ia angkat lidah seraya menghadapkan naskah itu ke arah Mukidi;
            “Ini artikel?”
             Istahilagi
Langitan, 17 September 2016



Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih telah berkomentar