Rabu, 26 Agustus 2015

Cerpen Cak Oman 2; 'Fobia Tikus'




23.30

Sudah setengah jam dari waktu wajib tidur, di mana para santri pada sibuk menyuarakan nada-nada dengkur di setiap sudut kamar. Satu suara bersahutan dengan suara dengkur lain membuat suasana malam benar-benar terasa seperti di pabrik selep. Hanya Oman yang masih tegar terjaga di ujung kamar. Di bawah lampu belajar yang terangnya tak seberapa, ia fokus menelaah kitabnya. Entah apa yang telah mempengaruhi otak Oman. Malam ini ia lebih tekun dari biasanya. 

Selain Oman, ada tiga temannya di kamar itu. Tetapi mereka sedang asik berkonser di balik punggung Oman. Mereka seperti penyiar radio yang sedang off air di tengah malam. Yah,  off air. Tahu sendiri kan suara radio off air kayak gimana? Grskrskrsgrrr.






Sudah bukan hal yang tabu jika tengah malam yang sunyi terdengar suara igauan-igauan gak jelas di kamar Oman. Benar benar gak jelas. Mulai dari jeritan minta tolong, tangisan, sampei hafalan nadhom. Gila, mengigau aja bisa ngelalar nadhom, gimana meleknya. 

Oman segera mendekat ke teman-temannya yang tergeletak kayak barisan ikan panggang tak beraturan. Ia mengambil sebungkus garam di kotak pojok bawah lemarinya. Anah memang. Kenapa pula ada garam di kamar. Tapi bukan Oman namanya kalau tidak suka usil. Sengaja ia menyimpan garam untuk ngerjain temen-temennya yang suka mendengkur keras di tengah malam. 

Bukan hanya garam, sering juga ia memasukin biji maoni ke mulut temannya yang sedang tidur. Gila, betapa mampusnya tuh lidah saat bangun dan mulai merasakan reaksi pahitnya maoni. Parahnya, Oman bukannya minta maaf, tapi malah menghujam temanya dengan gojlokan basinya; “Untung bukan rinso yang ane masukin. Bisa berbusa-busa tuh mulut..wkwkwk”.

Garam sudah di tangan Oman.  Kali ini ia merapat ke Raden, salah satu temannya yang sedang mengigau. Mendengar igauannya, Oman jadi tertawa sendiri. Iseng-iseng, ia menyahuti omongan geje-nya Radenz

Raden: Gantian, dong! capek..!

Oman; Apaan, baru segitu udah capek. 

Raden; Aduh, capek kakiku. Ganti aja kamu yang nyetir.

Oman meriingis sendiri. Tak disangka ternyata omongannya nyambung. 

“Eh eh, awas ada mobiiil!” Oman semakin usil.

Raden reflek bergaya miring. Tanganya selonjor ke depan layaknya orang nyetir sepeda. Ia tetap dalam dunia mimpinya yang mengadegankan bersepeda membonceng seseorang.

“Aman, Mas Bro!” igaunya.

Oman teringat, betapa Radenz takut dengan seekor  Tikus. Hehehe, kena loe, Den!, bisik Oman dalam hatinya. Kalau saja ini adalah sebuah komik, mungkin sudah keluar dua tanduk di kepala Oman.

 “Eh.eh awaaas, ada tikus lewatt…!” Oman berseru lumayan keras.

Seketika muka Radenz memerah. Kali ini tak ada sahutan. Sudah lewat beberapa detik tak satupun keluar reaksi dari Raden. Hanya suara jarum merah jam dinding yang terdengar semakin jelas. Keheningan yang terjadi juga membuat suara langkah kaki seseorang di luar kamar terdengar jelas di telinga. Tak lama, sorot cahaya lampu senter samar-samar terlihat menembus sela-sela pintu kamar. Oman dengan cepat menekan tombol off di  lampu belajarnya. Ia segera pasang posisi berbaring. Jam segini, melek di kamar adalah suatu hal yang terlarang. Belajar pun seharusnya di lakukan di ruang belajar, bukan di kamar. Jangan sampai suara kaki itu berhenti di depan pintu kamar, membukanya, lalu melihat sosok Oman yang masih belum juga tidur.

Wajah Raden masih tetap seperti kepiting rebus, memerah seakan menahan sesuatu. Sementara di luar kamar, suara langkah kaki itu mulai berlalu. Oman bernafas lega. Ia kembali bangun. Sebungkus garam itu masih berada digenggamannya. Ruangan yang gelap membuat wajah teman-temannya terlihat samar. Ia menoleh ke arah Raden. Ada yang aneh. Keringatnya perlahan keluar, membuat mukanya nampak mengkilat.  

Perlahan ia mendekat. M asa bodoh dengan keanehan Raden. Sekarang saatnya ia melaksanakan aksinya. Mulut Raden sedikit terbuka. Tapi tak ada suara dengkur. Oman mengangkat garamnya. Bersiap menuangkan butiran garam itu ke mulut Raden. Perlahan. Ia melakukannya dengan hati-hati. Jangan sampai Raden terbangun sebelum garam itu mendarat di lidahnya. 

“Whaaaaaaaaahhhhhh,,,, Tikuussss….. Tikuss… Whoiii tikus… whoii”, teriak Raden. Ia terjingkat dari tidurnya. Mencak mencak gak jelas. Tangan Oman yang tadinya bersiap menuang garam terpental karena kesenggol jidatnya Raden. Alhasil, garam itu terlempar. Butiranya menebar di udara. Dan akhirnya mendarat di mulut Ali dan Cak Kid, dua temennya yang masih ngorok pulas. 

“Hemm, kayaknya kasinan deh” igau Ali. Mulutnya mengecap-ngecap.

“Bener Mas Bro, tambahin aja kalo gitu airnya” sahut Cak Kid yang mulut dan lidahnya juga ikut berkecap-kecap keasinan. Buset, nih dua anak malah ngigaunya nyambung. Hadeehh.

Raden  masih belum sempurna sadar. Ia lari gak jelas ngalor ngidul. Kamar yang gelap membuat matanya gak ngelihat kalau Ali dan Cak Kid sedang tidur melintang. Alhasil, terinjaklah kedua anak malang itu. Tangan Ali terlindas. Jempol kaki Cak Kid yang cantengen juga ikut jadi korban. Mereka sontak mencak-mencak terbangun dari tidur. 

“Oi, ada apa ini rebut-ribut” tanya Ali. Ia masih separuh sadar.

“Tikoss.. ada tikoosss!” dengan cepat Raden yang sudah memojok di kamar menyahut.

“Hah, tikus? mana?  mana?” Cak Kid langsung terjingkat. Beda dengan Raden, Cak Kid malah semangat empat lima ketika bertemu tikus. Karena sering ikut anak khodam di sawah yang sering berburu hewan hitam itu, otaknya langsung agresif ketika mendengar kata tikus. Dengan tangkas ia meraih sebilah tongkat di bawah kolong lemari.

Begitu juga dengan Ali, ia paling suka kalau ada tikus yang kepergok oleh teman-temannya. Biasanya mereka rame-rame membawa tongkat untuk memburu tikus malang itu. Pukul sana. Pukul sini. Tikusnya panik. Lari ke sana. Lari ke sini. Nabrak sana. Nabrak sini. Sampir akhirnya tewas lah hewan malang itu. 

Tapi ini lain. Tak ada tikus. Hanya teriakan Raden saja yang menjadi-jadi karena fobianya dengan hewan berbulu dan menjijikkan itu.
Ali meraih sapu dipojok ruangan. 

“Ayoo..! pateni ae tikuse!” seru Ali.
Oman mengekeh tertawa. Wkwkwkw, bego banget! Orang tikusnya gak ada og sampek segitunya, bisik Oman dalam hati.

 “Itu lho tikusnya!” seru Raden seraya menunjuk-nunjuk ke arah gak jelas. 

“Iya, itu tuh tikusnya, pukul aja, kesuen!” sahut Oman, ia makin usil mengerjain teman-temanya. Karena kamarnya gelap, dan otak mereka yang setengah sadar, mereka percaya saja dengan omongan Oman. Ali merasakan ada yang aneh di kakinya. Ia menginjak sesuatu. Semacam bungkus pelastik dengan isi pasir di dalamnya. Tapi belum sampai ia mengambilnya, kaki Oman dengan cepat menggeser benda itu. Jangan sampai kedoknya terbongkar.

Yap, garam itu bergeser tempat lalu mengenai kaki Cak Kid. Sontak ia jingkat-jingkat. Dikiranya itu tikus, ia dengan sekuat tenaga melayangkan pukulan. 

Prrakkk…!@$#!



Teriakan Oman membuat Gaduh seisi kamar. Cak Kid yang tak sengaja memukul kaki Oman meringis sendiri. Sementara Ali ketawa kepingkal-pingkal melihat kekonyolan kedua temanya. Tak heran jika sejurus kemudian pintu kamar terbuka lebar. Sesorang dengan badan besar terlihat geram di depan pintu. Lampu senter diarahkan ke mereka bertiga. Yap. Mereka ketangkap basah membuat pelanggaran. meski sepele, tingkah mereka sungguh keterlaluan. 


 Baca juga Mading Romansa versi pdf di sini:




















1 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Makasih telah berkomentar