Rabu, 13 Maret 2013

Cerpen : Santri Jalanan


Adakah pelangi yang masih menyapaku dengan kelembutan hati?.  Adakah pandangan yang mampu membuatku terlena dengan keindahanya?. Dan adakah bangunan yang paling indah selain pondok pesantren Nurul Huda yang terletak tidak jauh dari menara monas ?.  Yang mungkin menurut pandangan orang-orang awam adalah tempat yang kumuh, para orang-orang kolot dan tak menyesuaikan akan zaman?. Bagi mereka yang tidak mengerti akan arti pesantren yang sebenarnya. Dan beribu-ribu rahasia yang tersimpan di balik pesantren dan juga  banyak pengunjung yang mendatanginya untuk menimba ilmu di sana. Mungkin mereka beranggap bahwa pesantren adalah  tampat obrolan belaka yang tak bermanfaat, hingga tak dianggap oleh pemerintah karena tidak ada ijazahnya?. Ya... mungkin saja begitu...
@@@
Aku masih termangu dalam lamunanku, terpaku dalam bisu. Membayangkan betapa bahagianya mereka (para santri) bisa belajar bersama, tertawa, berbagi senyuman, dan berbagai keadaan lainya yang membuatku iri dibuatnya. Aku berharap bisa menimba ilmu di sana, bersama mereka yang selalu ceria dalam kehidupanya. Aku pun membayangkan betapa mulianya mereka di hadapan Tuhanya, dan betapa hinanya diriku ini di hadapan-Nya.
Hey… melamun saja kau! ”, tiba-tiba Rizal membuyarkan lamunanku.  Rizal adalah teman baikku dari madura, Aku bertemu denganya di Bus kota  saat menuju Jakarta, dia adalah orang yang baik, penuh perhatian dan lucu.
“Ah.. tak ada apa-apa kok, aku hanya salut pada  pondok pesantren yang masih tegak di era globalisasi ini ” jawabku.
“Pondok mana yang kau maksud ?” tanya Rizal heran
“Pondok pesantren Nurul Huda” jawabku rendah dan dia pun terdiam beberapa saat
“Ya, aku juga sependapat denganmu, walau aku tak pernah ada niat untuk kesana, tapi aku faham kalau pesantren adalah wadah bagi orang-orang yang ingin hidupnya bahagia, tanpa harta.? jelasnya panjang lebar
“Kenapa kau tak ingin ke sana?” tanyaku
“Orang tuaku melarangnya, karena faktor ekonomi kami yang mengharuskanku untuk mengamen”. aku mengangguk pelan mendengar penjelasanya, karena hal itu juga terjadi padaku. Selama beberapa saat kami pun terdiam, merenungi hidup. Akupun mulai angkat bicara.
“Aku ingin mondok”, datar, tapi penuh tekanan. Rizal hanya melongo seakan tak percaya.
“ Ya… itulah keputusanku ”,  tegasku lebih jelas. Rizal hanya menundukkan kepalanya seolah memegang beban berat.
“Tapi bagaimana dengan orang tuamu ?, dan apakah kau sudah cukup banyak uang?“. tanya Rizal
“Aku yakin kalau orang tuaku mengijinkan. Untuk masalah uang, itu bisa diurus nanti. Aku yakin Allah memudahkan jalan hambanya yang ingin mendekat kepadanya”.
“Baiklah kalau itu sudah menjadi pilihanmumu, aku pun tak dapat mencegahnya. Aku hanya berpesan, jangan lupakan aku”.
“ Terima kasih kawan ”. Kamipun berpelukan erat dan meneteskan airmata bersama. Tapi aku masih ragu untuk meminta izin pada ayah dan ibu. Akhirnya ku tunda keinginanku tersebut tuk beberapa waktu.
@@@
                Keesokan harinya kami mengamen seperti biasanya, aku bernyanyi sambil membawa gitar kecil dan Rizalpun membawa gendang. Bus demi bus  telah kami singgahi demi mencukupi kebutuhan. Rasanya resah, membosankan hidup di jalanan, tak berarti hidup ini jika dibandingkan hidup di pesantren, lelah sudah, tubuh lemas untuk meneruskan perjalanan sampai tujuanku, biasanya setelah mengamen kami sempatkan pergi ke pondok tapi tidak untuk masuk karna kami belum menjadi santri, kadang ku mendengarkan tausyiah KH. Makhrus ketika menyampaikan lewat speker di atas masjid, “Awakmu kabeh iku kudu wedi karo wong sing nggawe (orang tua )mulane kito kabeh ojo sampe nglarakk,e mergane ridloe pengeran iku tergantung ridlone wong tuo loron kito kabeh” begitulah kyai Makhrus menyampaikan tausyiahnya.
Sengaja aku naik bus ini karena satu jurusan menuju pondok, dengan alasan agar bisa melihat bangunan indah dan ikut mengaji kilatan di pesantren Nurul Huda. Aneh sekali ketika sampai di perempatan jalan, kami berdua sedang asyik bernyayi, tiba-tiba kami melihat anak kecil tengah bermain bola bersama teman-temanya, karena saking asyiknya bermain si anak tersebut berlari kearah jalan raya untuk mengambil bola yang terlempar melambung jauh, tanpa melihat kanan kiri, dan ternyata ada mobil konteiner melaju dari arah kanan jalan,
 “AWAS… ” teriakku sambil berlari menuju anak tersebut untuk menyelamatkanya,
BRUK…!
“ Ah……..”. aku tertabrak mobil kointener sebagai ganti tubuh anak kecil itu, tubuhku lemas dan kepalaku pening, penglihatanku buram tak menentu, dan hilang sudah semua indraku.
@@@
                Kepalaku sakit. Apa yang terjadi pada diriku? sehingga aku berbaring di sini, apa ini akibat kejadian tadi sehingga aku berada di sini. Aku tak percaya dengan semua ini. Dimana tubuhku yang asli, dimana Rizal dan dimana gitar kecilku? Ya Allah apa semua ini pemberian-Mu setelah aku menyelamatkan nasib anak kecil itu, bagaimana bisa terjadi dengan semua ini, bagaimana aku bisa keluar dari sini, Aku tak punya uang untuk berobat, dan bagaimana dengan keluargaku, ibuku apakah mereka mengetahui dengan keberadaanku disini, pikiranku terombang-ambing tak menentu, tiba-tiba kuterdengar suara aneh dari telingaku “isbir ya akhi”  dari manakah suara itu datang, dan dari manakah suara itu berasal ?, ku coba membuka mataku agar bisa melihat di sekelilingku dan ternyata hanya ada satu orang yang menjagaku yang tak kukenal
Alhamdulillah.. ternyata kau sudah sadar! ” Ucap pemuda itu
“Dimana aku berada?” tanYaku dengan suara rendah
“Tenang mas kau sudah selamat. Sekarang anda berada di rumah kyai Makhrus, namaku Iqbal dan aku adalah salah satu pengurus pondok pesantren Nurul Huda. Anak kecil yang kau selamatkan itu adalah cucunya kyai Makhrus sehingga kau disuruh untuk tinggal sementara di sini ”. Balasnya
“Apa kyai Makhrus kenal padaku ” tanyaku agak heran
“Sudah dari dulu kyai Makhrus mengenalmu. Anda kan yang selalu ke pondok ini setiap hari untuk mengikuti ngaji kilatan . Akupun sudah mengenalmu dari kyai Makhrus ” jelas iqbal kepadaku. Setelah agak lama berbincang dengan iqbal akhirnya iqbal pun pergi keluar dan aku tak  sempat untuk menanyakan keberadaan Rizal.
@@@
Pagi begitu cerah. Embun pagi masih terasa dingin di badanku, mungkin sisa angin malam yang masih melekat di tubuhku. Suara burung mulai terdengar jelas di telingaku. Tetapi waktu sholat subuh belum ku lalui. Kupasrahkan jiwa di  shubuh. Setelah kejadian kemarin rasanya ada yang berubah dalam hidupku. Tiba-tiba Iqbal telah memberi kabar gembira kepadaku bahwa aku diterima mondok disini. Alhamdulillah akhirnya aku bisa mondok di pesantren. Walau aku tak punya uang banyak untuk membiayai pondok ini. Rasanya indah sekali hidup di ruang yang penuh dengan foto-foto para ulama, hatiku tentram damai ketika melihatnya.
“ Farhan ayo ngaji pa kyai sudah rawuh “ ajak salah satu temanku untuk mengaji di mushola
Dan aku menjawabnya dengan senang hati mengiyakan ajakanya, karna hari ini adalah hari pertama ku mengaji di pesantren akupun cepat-cepat berangkat. “ Wong seng sineng karo dunyo iku uripe ora bakal bejo lan slamet nang akhirat, mangkane kito kabeh kudu konaah lan tawadhu ” air mata seluruh santripun berjatuhan karna terharu oleh kisah yang diceritakan oleh kyai Makhrus.
setelah selesai ngaji biasanya aku di panggil oleh kyai untuk mencuci pakaian, menyapu, menguras dan yang lainya. Nikmat terasa tak ada yang menyaingi kehidupanku selain di pesantren. Serba ada di pesantren walau tak semua orang bisa masuk ke pondok. Kegiatanku juga disini hanya untuk mendekatkan kepada Allah semata. Dan aku juga bercita-cita akan mengembangkan pesantren ini besok lusa.
@@@
Hari demi hari terus berganti.  Tak terasa selama 2 bulan kulewati adaptasi di pondok tanpa ada rasa malas ataupun bosan karena di pesantren adalah cita-citaku dari sejak kecil hingga sebelum aku mengamen, tetapi akhir-akhir ini rasanya teman-teman ada yang berubah denganku. Tak biasa rasanya mereka melihatku seperti itu, apa yang terjadi dengan teman-temanku semua menghindariku bahkan ada juga yang meledekku dengan kata-kata kotor “Huuh…. dasar pengamen jalanan  tak punya malu”. Seperti itukah mereka di belakangku mengejek dan memakiku, tiba-tiba Dimas salah satu teman kamar  mendekatiku dengan keadaan terburu-buru
“Han… kau celaka, semua santri menuduhmu telah menyebarkan narkoba di kamar kita” gugup Dimas sambil ngos-ngosan
                Astagfirulloh siapa yang membuat kabar bohong ini?”
                “Aku tidak tau Han... siapa yang melakukanya” jawab Dimas gugup
Akhirnya semua pengurus telah memutuskan bahwa akulah yang bersalah, padahal aku tak berbuat apa-apa, kenapa aku bisa seperti ini, kenapa gampangnya mereka menuduhku hanya dengan bukti bahwa narkoba itu ada di kamarku. Karena mereka mengira bahwa aku adalah anak jalanan dan sudah terbiasa memakai ganja.
                “Kau tetap bersalah Farhan karna semua bukti ini sudah jelas !” tegas keamanan ketika menyidangku diruang khusus.
“Tapi pak... saya tidak melakukanya!”
“Bukti sudah jelas begini masih saja tapi-tapian”
Akhirnya aku di putuskan untuk segera pergi dari pesantren dalam keadaan tidak hormat, dicukur gundul dan disoankan pada kyai, walaupun aku diusir dari pesantren tapi kyai tetap tidak meridhoinya karena buktinya tidak terlalu jelas. Beliau tidak percaya dengan semua kejadian ini.
“ Pokoknya Farhan harus mondok di sini ” jelas kyai Makhrus
“ Mohon maaf kyai, dengarkan sebentar penjelasan kami, dia hanya seorang pengamen jalanan yang tak mengerti ilmu agama, makanya dia memakai narkoba di kamar dan jika Farhan berada di pondok maka seluruh santri akan bisa terpengaruh olehnya, lagian semua santri disini juga membencinya ” bantah Iqbal selaku pengurus pondok
“ Cukup...... tutup mulutmu, tak pantas bagimu berbicara seperti itu, Allahlah yang maha mengetahui segalanya ” bentak kyai Makhrus dengan nada tinggi, akhirnya Iqbal pun minta maaf pada pak kyai dan berpamitan untuk segera keluar dari kamar kyai Makhrus
Akhirnya Iqbal keluar dengan wajah suram dan membawa amarah kepadaku, tak aku sangka pesantren ini membenci semua orang-orang jalanan sepertiku, mungkin mereka menganggap kami semua adalah orang-orang tak berguna di pesantren ini dan hanya mengganggu santri-santri. Hatiku terasa hancur bagaikan dihembus debu beracun. Tak enak rasanya berlama-lama di pesantren ini lebih baik aku pergi sendiri saja tanpa dipaksa keras keamanan dari sini, aku pun pergi dari pondok tanpa permisi kepada kyai, “Maafkan aku kyai, Farhan pamit dulu” teriakku dalam hati, puluhan santri melihat kepergianku dengan tajam, aku dimaki tanpa punya rasa malu terhadap kyai, bahkan ada yang sampai melemparku dengan kerikil. Remuk sudah hatiku berada disini tak tahan rasanya ingin kupukul satu persatu santri di sini termasuk juga pengurus pondok. sedih rasanya,  setelah sampai di pintu gerbang pesantren akupun berteriak “Allah tidak buta sobat… semoga kalian semua menyadarinya!!!”  Pun kyai Makhrus  mendengar suaraku dan melihat aku berlari diiringi dengan tetesan air mata membasahi pipi beliau menatapku sedih.
@@@
Aku mulai enggan hidup. Rasanya aku ingin kembali ke masa lalu. Dimana aku masih bersama keluargaku di jawa tengah. Tapi hal itu tak mungkin bagiku, lebih baik kubuang jauh-jauh hal itu. Aku berlari sekencang kencangnya dengan membawa tangis. Tak peduli ratusan orang melihatku seperti orang gila. Memang aku sekarang stress.  Di sekitarku banyak orang yang mengenaliku tetapi aku tidak. Lari dan berlari, hanya itu untuk menghilangkan rasa sedihku. Entah kemana aku harus berlari. Sejauh mungkin agar mereka tak lagi melihatku. Lebih baik aku pulang saja. Rizal telah menungguku di gubuk, dari pada di sini hanya cacian dan makian yang selalu menimpaku. Aku pun pulang. Ketika dipererbatasan jalan Pantura, aku masih saja terus berlari tanpa melihat kanan kiri karena air mata selalu menutupiku untuk melihat. Tiba-tiba bayangan benda besar mendekatiku melaju dengan cepat, dan akupun berhenti sejenak dan ternyata
BRUK…!
Kejadian yang lalu telah terjadi lagi pada diriku, Ternyata Allah telah memanggilku, tubuhku terpental kesamping jalan dengan darah yang berceceran. Kepalaku membentur trotoar dengan sangat keras. Terasa begitu  linu. Sekujur tubuhku kaku. Mati rasa. Kulihat bayang-bayang hitam merayap melewati pelupuk mataku. Bayangan putih merambat pelan. Gelap sudah.
                kejadianku tersebar begitu cepat ke seluruh penjuru sampai ke pesantren. Semua penghuni ma’had kaget bukan kepalang mendengarnya, akhirnya mereka meminta maaf pada kyai agar mendoakanku. Mereka semua menyesal atas perbuatanya selama ini. Malam harinya seluruh santri dan kyai makhrus bahkan Rizalpun bermimpi bahwa Farhan sudah bahagia di alam sana bersama bidadari indah jelita.


Sekian

By : Y@gami _V
Selasa 25 Februari 2013

1 komentar:

  1. nala el izza2 Juni 2016 10.23

    Sip!! Ceritanya mengharukan. Tp knp si farhan hrus mati??

    BalasHapus

Makasih telah berkomentar