Jumat, 20 September 2013

Cerpen: Sekolah Ga’ Niat, Mau Jadi apa?



Mentari yang hangat, tetesan embun yang sudah mengering, Ayam jantan yang sudah berhenti berkokok, dan suara nadhoman yang kian ramai terdengar di seluruh penjuru kelas. Sial, hari ini aku telat lagi. Sudah jam setengah Sembilan broo… Gila, jam segene aq baru berangkat, gimana respon gus Rokhim nanti…?
Ampun pak… jangan hukum saya… hatiku gemeresek gak karuan. Fuhh.. masa bodohh, yang penting aku tetap sekolah. Guse kan penyabar. Paling-paling juga akan berdiri di kelas. Sebenarnya itu lebih baik, dari pada aku dipersilahkan duduk, terus tidur, ngeekk, hilanglah semua kalam indahnya, dan aku tetap dalam peraduanku (cek ile.. pakek nyastra segala).

Yes yess.. ternyata guse belum datang… yeaach… aku lihat di dalam kelas teman-teman sedang ribut gak karuan.. betewe.. siapa yang mindahin pasar babat ke kelas.. suasana jadi rame kayak ada obralan sandal..
heh..heh.. aku, aku, aku..”.
Whoi.. mana bagianku”. 
hooy.. sini hoy jangan di ambil sendiri”.
Asyeek...ternyata mereka lagi bagi-bagi jajan...
“Whoy.. whoy.. mana bagianku..” aku gak mau kalah. suaraku yang keras makin menambah keributan di dalam kelas.
WHOOiii….”  Terdengar teriakan seseorang dari depan pintu. Gila, suaranya  lebih keras dari kami semua. Menggelegar kayak salon Simbada.. bahkan teman-teman yang asalnya rame jadi diam tanpa kata (Ost. D,masiv).
Ya ampun, ternyata Thohir, si ketua kelas. Dia baru datang dari kantor dan langsung berteriak. Habis kerasukan apa dia, jadi galak kayak gitu.
’Astaghfirullahal‘adhim.. kalian ini, gurunya ga’ ada bukannya musyawaroh kek, belajar kek, malah ribut kayak tekek. Astaghfirullahal’adhiiim.. malu donk, kalian ini sudah kelas tiga emte,es. Masak tampang tua-tua gini kelakuanya kayak anak kecil. Astaghfirullahal’adhiiim..” crocos Thohir dengan muka yang merah padam kayak bibirnya rifki.
Anu kang,. Malik sedang bagi-bagi jajan. Makanya kami rebutan” jawab Jamal, murid paling kecil di kelas.
“Apa.. kalian ini….. kenapa ga’ bilang dari tadi.. hoii, mana bagian ku.. hooii..”. Hadoohh capek deh, si Thohir malah memprofokasi. Oke lah broo, kamu memang ketua kelas yang patut ditiru.. sekarang suasana semakin rame seperti kuburan, kuburan yang lagi ada acara haul maksudnya.
“sstt ssst… guse datang, guse datang.”   Kicaunya rifki di sela-sela keributan. Teman-teman langsung gelodakan lari menuju tempat duduk masing-masing. Saat itu juga Thohir selaku ketua kelas langsung ke depan berpura-pura sedang menerangkan pelajaran. Padahal, di papan tulis kan ada banyak gambarannya Ihsan. Masak dia mau nerangin gambar itu.
Sedetik kemudian, terlihat bayangan dari balik pintu. “Assalamu ‘alaikum..”. suaranya khas, sepertinya dia… oh tidak.. ternyata dia Suyuti
“ya Allah…. Bonjoool…bonjol… ngagetin orang aja kamu” cetus Anam.
”kirain guse yang datang, ealah malah tampang kamu yang nongol” sambung  Zahid.
 “Heheh, santai bro.. kali ini guse gak bakalan masuk, percaya sama aku..” cetus Bonjol, panggilan kerenya Imam Suyuti.
“Hah, yang benar kamu, tadi aku lihat guse siap-siap mau berangkat” sahut Maaf, singkatan dari Muhammad Amar Anwar Faqih.
“Yahh, informasi kamu kurang Update, tadi aku dapat kabar kalau guse mau tindaan, jadi sekarang pelajaranya kosong” terang bonjol.
“Wah,, ssip.. sae niku, kalo gitu ayo kita pulang” cerocos Khidir,
“setujhu.. ayo pulang” fuad langsung nge-like komentar khidir dan disambut dengan komentar teman-teman yang lain. intinya banyak dari mereka yang setuju.
Semua sudah siap. Kitab-kitab sudah melekat di tangan, ok bro..saatnya kita pulang.
“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh” Tiba-tiba terdengar suara salam.
Busyeeet … di saat semua sudah siap mau pulang. eh tanpa diduga pak Shomad malah masuk ke kelas. Ketahuan akhirnya tampang-tampang yang gak niat sekolah.
“wah wah, mau pada ngapain ini” selidik beliau.
“a anu pak,, kami mau…”
 “mau kencing pak, ya, mau kencing, sudah kebelet nih pak” belum selesai suyuti ngomong, Fuad langsung memotongnya. Dasar si fuad, otaknya ditaruh di dengkul apa, mana ada orang kencing sambil bawa kitab, rombongan lagi. Karuan saja pak Shomad gak percaya. Kami pun disuruh duduk kembali.
“saya di sini cuma ngasih kabar. hari ini gus Rokhim tindaan, jadi gak bisa masuk. tapi kalian ga’ boleh pulang. beliau berpesan, kalian harus musyawarah sampai nanti jam setengah dua belas, nah setelah itu baru kalian boleh pulang”.  terang beliau.
“inggih pak” suara teman-teman kompak.
“ Ya sudah, aku tinggal kalau begitu, jangan rame lo ya. rame ga’ papa asal ramenya debat masalah pelajaran.”sambung beliau.
” Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatuh”
“Waalaikum salam warohmatullahiwabarakatuh”
“oke bro...kalian denger sendiri kan kata beliau.. kita ga’ boleh pulang..jadi, ayo kita istirahat.. “ seru bonjol dengan suara khasnya. Suara doremon. 
“wahh ide baguz broo... ....”  Anam yang sibuk utak-utek pun ikutan nyahut.
”Oke.. ayo ngaso.....” seru khidzir yang langsung disambut dengan “oke”-nya teman-teman yang lain, termasuk aku yang juga gak mau ketinggalan.Tanpa basa-basi separo dari kelas kami sudah hilang tanpa jejak. dan hanya segelintir anak saja yang musyawarah di Dalam kelas.
-@@@-
 Detik demi-detik telah berlalu. Jarum jam terus bergeser memutari porosnya. Dan saat ini, angka dua belas sudah hampir dilalui oleh jarum pendek. Seluruh penjuru kelas terlihat tenang. Sebagian kelas ada yang sudah pulang. Tidak ada keributan sedikitpun. Apalagi suara kelotekan anak-anak usil. Yah, semuanya tenang. tapi tidak bagi kelas kami.
“seratus lima...... seratus  enam.... seratus  tujuh........ seratus  lapan...” suara teman-teman terdengar kompak.
“Ampun pakkk, capeeek.....” suyuti  menggeliat kayak uler keket.
“halaaah... baru seratus delapan sudah loyo, mana kekuatan kalian....” sahut pak Somad. Busyett broooo... gak kusangka ternyata pak somat super duper kilerrr.. bayangin bro... pus ap 200 kali... Gila, punggungku rasanya kayak didudukin Fuad, berat banget bro...
“Sekolah ga’ niat, bangkang sama guru, Mau jadi apa kalian...?” bentak pak Shomad dengan muka super serius.  “sebentar lagi mau ujian, seharusnya kalian belajar yang tekun, sekolah yang rajin, biar g’ terjaring absen. Paham gak kalian..”..
“inggih pak” suara kami serempak tapi terdengar lembek kayak gorengannya mbah Hadi.
Hidup memang gak asik tanpa ada lika-liku. Dan pahitnya biji Maoni bukan berarti itu tak ada gunanya. Hari ini aku telah merasakan pengalaman yang pahit. Maski gak bisa disamakan dengan pahitnya biji maoni. Tapi aku menyebut ini pengalaman yang pahit, karena kami tadi siang juga disuruh makan Maoni sama pak Shomad. Rasanya,hhiiiihhh pahititu karena kami belum hafal waktu disuruh setoran..  Yah , setidaknya hari ini aku mendapat pelajaran yang berharga dari beliau.. ingat broo.. niat kita sejak awal mondok. Yaitu belajar, belajar dan belajar.. ok broo....



Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih telah berkomentar