Kamis, 03 September 2015

Majalah Langitan Gelar Pelatihan Menulis di Gresik

Mas Riza (tengah) bersama para peserta pelatihan menulis
”Biar orang pintar setinggi langit, bila ia tidak  menulis maka akan hilang dari masyarakat dan sejarah”. Sebuah kutipan yang diungkapkan oleh Pramoedya Ananta Toer ini disampaikan oleh Riza Multazam Luthfy, SS., SH., MH. dalam pelatihan kepenulisan di Saung Bambu, Suci, Manyar, Gresik selama dua hari, Kamis-Jum’at (27-28 Agustus 2015).

Sebanyak sepuluh santri yang terdiri dari perwakilan krew Majalah Langitan dan Majalah Harakah mengikuti pelatihan ini. Pelatihan yang diselenggarakan oleh Majalah Langitan ini bertujuan untuk mendorong semangat para redaktur  -yang beberapa baru masuk di redaksi- agar lebih bersemangat dalam menulis. Mas Reza, panggilan akrabnya, memberikan materi tentang apa saja manfaat menulis, teknik penulisan berita, feature, dan lain-lain.  Ia adalah penulis freelace yang ratusan karya tulisnya telah dimuat di Koran dan majalah baik lokal ataupun nasional. Di hadapan para kuli tinta, Dosen STAI Attanwir Bojonegoroini ini juga menceritakan pengalamannya selama menjadi penulis freelance.

Selain diikuti oleh para jurnalis dari Ponpes Langitan, acara pelatihan ini juga mengundang dua peserta dari redaktur Majalah Al-Fikrah, Ponpes Mamba’us Sholihin, Suci, Gesik. Mereka hadir pada pertemuan ke dua yakni pada Jum’at pagi. Pada pertemuan ke dua ini, Mas Reza banyak menyampaikan materi tentang penulisan berita, mulai dari unsur berita, kriteria-kriterianya,  pemfokusan pada pokok masalah, struktur berita dan lain-lain.

Seperti yang diunkapkannya, tehnik menulis berita pada umumnya menggunakan struktur piramida terbalik. Berita selalu mendahulukan bagian yang paling penting dan menarik untuk ditampilkan di awal pararaf. Lalu semakin ke bawah volume berita, isinya semakin kurang penting.

Tidak hanya sampai di materi berita saja, pada even ketiga yang dimulai setelah jama’ah Jum’at, para santri kuli tinta itu disuguhkan berbagai materi mengenai penulisan feature. Sayangnya para perwakilan dari redaktur Al Fikrah berhalangan hadir pada pertemuan ini. Mas Riza menjelaskan tentang bagaimana meramu sebuah fakta yang dianggap kurang actual bisa menjadi sebuah tulisan yang menarik dibaca kapan saja. Cara tersebut adalah dengan mengubah gaya penulisan berita menjadi feature. Ia menerangkan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan dalam menulis feature.

Proses pelatihan ini berlangsung hingga malam pukul 21.30 yang kemudian diakhiri dengan acara makan bersama. Pada Sabtu pagi, para peserta kemudian bertolak dari Gresik untuk kembali di pondok dan melakukan aktivitas harian. [Istahilagi]



Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih telah berkomentar