Selasa, 10 Februari 2015

Menjadikan Harta dan Anak Menjadi Perhiasan Kehidupan


Oleh: Ibu Nyai Hj. Lilik Qurrotul Ishaqiyah Munif

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Q.S Al Kahfi : 46)

Doa dan Harapan Indah

Betapa bahagianya orang tua yang diberi amanah oleh Allah berupa anak, karena dari anaklah harapan-harapan terangkai seindah mungkin. Karena anugerah anak, bisa jadi motivasi diri untuk semangat mencari rejeki dan membenahi kehidupan lebih baik.


Bermula dari ini, hal lumrah bila orang tua mengharapkan putra-putrinya menjadi orang yang sempurna, taat beribadah, memiliki prilaku yang baik, memiliki kecerdasan spiritual, cerdas membaca lingkungan dan menjadi anak yang bisa dibanggakan.

Biasanya, harapan-harapan ini sudah tertanam dalam batin orang tua semenjak anak masih dalam kandungan sampai lahir. Harapan-harapan indah itu senantiasa dihembuskan melalui untaian doa, meminta kepada yang Maha Kuasa agar cita-cita indah orang tua menjadi kenyataan. Keinginan, harapan dan keyakinan yang kuat akan selalu menjadi bagian dari doa-doa orang tua terhadap putra-putrinya. 

Orang tua manapun akan menghendaki anak-anaknya menjadi shalih dan shalihah, menjadi qurrat al-'ain (penenang hati). Khususnya menjadi anak yang taat pada Allah SWT. Bila memberikan pendidikan yang benar secara agama, insyaAllah cita-cita orang tua akan tercapai.

Atas Dasar Keimanan

Namun, harapan dan keinginan orang tua di atas harus didasari keimanan kepada Allah dan  keyakinan yang mengakar kuat dalam sanubari bahwa Allahlah penentu segala hal, agar keinginan-keinginan itu tidak menjadi ego dan ambisi yang berlebihan menguasai nurani hingga akhirnya malah menjadi bumerang terhadap perkembangan psikologi anak itu sendiri.

Keinginan Kadang Berbeda

Mengapa ini bisa terjadi? Karena keinginan-keinginan yang berlebihan dari orang tua kepada putra-putrinya akan jadi belenggu yang kuat pada anak, membebani pikiran dan jiwa mereka, sehingga bisa mengakibatkan frustasi dan stres karena merasa terus dituntut untuk mewujudkan keinginan orang tua. Padahal, anak-anak terkadang mempunyai keinginan yang berbeda dengan keinginan orang tua, inilah problem yang nampaknya tidak banyak disadari oleh orang tua.

Banyak orang tua yang menerapkan metode ‘mendidik paksa’ pada anaknya, anak dituntut menjadi begini, menjadi begitu, menurut keinginan orang tua tanpa melihat ke dalam diri anaknya, apa keinginan si anak, apa bakat si anak, apa cita-cita si anak. Sering hal ini luput dari pengamatan orang tua, sehingga cenderung memaksa agar anak merealisasikan apa yang menjadi ambisi orang tua.

Ambisi-ambisi duniawi ini timbul bila orang tua melihat anak telah berhasil menjadi seperti yang diinginkan, misalnya menjadi dokter, pilot, pejabat dan lain sebagainya. Orang tua akan berbangga hati karena kesuksesan yang diraih anak bisa mengangkat derajat dan status sosial serta bertambahnya pundi-pundi kekayaan harta benda. Tidak hanya itu, kebanggaan-kebanggaan tersebut kemudian diceritakan kepada orang lain sesama orang tua, tidak terasa orang tua ini telah tercebur dalam jurang “Tafakhur fi al-amwaal wa al-aulaad” (bersombong dengan membangga-banggakan harta dan anak-anak mereka), padahal itulah salah satu penyakit hati yang seharusnya dihindari oleh orang tua, karena bisa menyebabkan terhijabnya hati di dalam penghambaan kepada Allah SWT.


Agar Anak Tidak Menjadi ‘Fitnah’

Kiranya itulah sesungguhnya harta dan anak bisa menjadi ‘fitnah’, ujian, dan cobaan bagi orang tua, apakah dengan hadirnya harta dan anak bisa menyebabkan bertambahnya rasa syukur, bertambahnya ketakwaan atau malah sebaliknya, menyebabkan maksiat kepada Allah. 

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Q.S At-Taghabun: 15). Pesan yang dapat dipetik dari ayat tersebut adalah mengingatkan para orang tua agar senantiasa bertakwa kepada Allah atas anugerah harta dan anak, bukan malah melahirkan kesombongan hati dengan membangga-banggakan harta dan anak yang dimiliki. Karena hal ini wujud ‘fitnah’ dalam singgungan ayat tersebut.

Fitnah atau cobaan yang Allah hadirkan berupa harta dan anak, merupakan parameter untuk mengetahui siapa hamba yang takwa dan siapa hamba yang lalai durjana. Tentu, yang bertakwa telah Allah janjikan tempat mulia untuknya.

Oleh karena itu, sebagai orang tua hendaknya hati-hati menyampaikan sesuatu yang menjadi harapan. Karena bila orang tua terlalu memaksakan kehendak dan tidak bisa membaca kondisi anak, maka akibatnya timbul ketidakharmonisan antara anak dan orang tua, serta anak tidak percaya lagi untuk mengeluhkan problemanya (curhat) kepada orang tua.

Orang tua yang tampil dengan karakter yang lebih menitikberatkan ego dan arogansi  dengan mengintimidasi dan menekan anak, jangan harap anak akan patuh dan mengikuti apa yang menjadi harapan-harapan orang tua, walaupun harapan itu baik. Disharmonisasi yang terjadi dalam keluarga itu juga salah satu bentuk bala', cobaan dan fitnah yang perlu diwaspadai oleh segenap orang tua, hingga dalam praktik mendidik anak tidak salah jalan, tidak salah langkah yang menjadi penyebab keretakan rumah tangga. Wallahu a'lam bis ash-Shawab.

Sumber: Majalahlangitan.com


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih telah berkomentar