Minggu, 27 April 2014

Meng-astaghfirullah-kan Istighfar


Pernah dengar nama Robi’ah Al-Adawiyah? Tentu saja, dialah seorang perempuan kekasih Allah yang mempunyai tingkat kezuhudan yang, masya Allah, luar biasa. Beliau adalah seorang wanita sufi yang beberapa kali dilamar oleh para lelaki, namun ia menolaknya karena ingin lebih dekat dengan Sang Khaliq. Salah satu cerminan yang mungkin bisa kita tauladani adalah kerendahan dirinya yang ia rasakan di mata Allah. Yaitu sebuah ucapannya yang berkata: “istghfarku perlu untuk diistighfari”.

Nah, semua tentu sering kali beristghfar bukan. Seusai shalat fardhu kita tidak lepas untuk membacanya. Setiap hari kita beristghfar. Namun, adakah hati kita meminta ampun tatkala bibir berkomat-kamit membaca lafadz tersebut? Mungkin tidak. Atau mungkin ia, tapi selepas itu tidak lagi. Harusnya hati juga ikut beristghifar mengikuti gerakan lidah. Tapi kebanyakan hati kita malah ngalor ngidul gak karuan. Iya tidak?.

Di dalam keseharian, kalimat istghfar juga ngetren bagi para santri. Coba saja perhatikan, sedikit-sedikit kalimat istghfar keluar dari bibir mereka. Dikit-dikit istighfar, dikit-dikit istighfar, istighfar kok cumak sedikit, hahay. Tapi  jangan salah dulu! Memang harusnya juga seperti itu. Kalimat istighfarlah yang seharusnya dingetrenin. Dari pada istghfarnya orang Jawa (ungkapan kerennya kata-kata jorok). Malah jadi perlu diistghfari nantinya, iya kan. Tapi agaknya istghfar juga sepatutnya disertai dengan rasa bersalah dan minta ampunan kepada sang Khaliq. Bukan hanya terucap doang.

Tapi Itu sih masih mending. Coba jika saja ada orang yang benar-benar melakukan dosa lalu membaca istighfar, tapi istighfarnya cuman di bibir doing. Artinya hatinya tidak benar-benar bertaubat menghentikan apa yang telah diperbuatnya. Itu sama aja dia gak punya malu di hadapan Tuhannya. Atau  Kalau boleh penulis ngibaratin nih, itu seperti halnya kita minta maaf sama orang tapi ngomongnya sambil ketawa. “haha.. maafkan aku ya..! maafkan aku ya!”

Nah, semua analisis istighfar di atas adalah sebagian contoh dari beberapa istighfar yang perlu untuk diistighfari. Karena semua yang telah teruraikan tersebut bukanlah hakikat dari istighfar yang sebenarnya. Tapi gaes, berdzikir yang seperti ini (meski gak sampai di hati) itu lebih baik, lebih mending, daripada gak berdzikir sama sekali. Karena lewat lisan siapa tahu hati kita juga akan tergerak.


Seperti yang diungkapkan KH. Ubaidillah Faqih dalam pengajian Kitab Nashoihul Ibad. Mengucap istighfar merupakan salah satu dari kriterium taubat nasuha. Dan itu juga memerlukan keriterium lain yaitu menyesali dalam hati perbuatan dosa yang dilakukan, menyudahi pekerjaan dosa tersebut, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Meski demikian, semua penjabaran ini tentunya bukanlah merupakan makna subtansial dari istilah istighfar yang perlu diistghfari seperti yang dikatakan Rabi’ah Al-Adawiyah. Tentunya istilah tersebut menjadi sebuah pengaplikasian bagi mereka yang mempunyai tingkat kesufian yang tinggi. Mungkin saking takutnya mereka dengan Allah, saking merasa banyaknya dosa kepada Allah, sampai-sampai istighfar yang super seriuspun masih merasa istighfarnya perlu diistighfari lagi. Entah dalam segi apanya. Yang jelas, yang harus kita lakukan adalah tetap menyuarakan kalimat istighfar meski dengan berbagi kekurangan, tentunya dengan berusaha melengkapi kriterium taubat seperti yang diungkapkan oleh Yai Ubed di atas.
Istahilagi
Bias hijau Kafafa
(Semangat untuk teman-teman Kafafa)



1 komentar:

Makasih telah berkomentar