Selasa, 14 Januari 2014

Abdurrahman Bin ‘Auf “Menangisi Kekayaannya”

index
Para sahabat memiliki keimanan kepada Allah SWT yang luar biasa. Kadar keimanan itu menegaskan bahwa mereka adalah generasi terbaik dalam Islam. Salah satunya adalah Abdurrahman bin ‘Auf. Pemuda Quraisy kelahiran 10 tahun sesudah lahirnya Rasulullah SAW itu termasuk delapan orang yang pertama kali masuk Islam.

Pada masa Jahiliyah, ia dikenal dengan nama Abd Amr. Setelah masuk Islam, Rasulullah memanggilnya Abdurrahman bin ‘Auf. Ia memeluk Islam sebelum Rasulullah menjadikan rumah al-Arqam sebagai pusat dakwah. Abdurrahman bin ‘Auf mendapatkan hidayah dari Allah dua hari setelah Abu Bakar ash-Shiddiq memeluk Islam.


Seperti kaum muslimin pada awal Islam, Abdurrahman bin ‘Auf tidak luput dari tekanan kaum Quraisy. Namun ia tetap sabar dan tabah. Ia turut hijrah ke Habasyah bersama para sahabat lainnya. Ketika Rasulullah SAW dan para sahabat hijrah ke Madinah, nabi mempersaudarakan orang-orang muhajirin dan anshar. Di kota yang dulu bernama Yatsrib ini, Rasulullah menjadikan Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’ad bin Rabi al-Anshari sebagai saudara. Dari petunjuk saudaranya itu, Abdurrahman mengembangkan niaga di Madinah sehingga menjadikannya salah satu sahabat nabi yang kaya raya.

Kedermawanan Abdurrahman bin ‘Auf tidak diragukan. Ia tak segan mengeluarkan seluruh hartanya untuk jihad di jalan Allah. Pada waktu perang Tabuk, Rasulullah menganjurkan kaum muslimin untuk menginfakkan harta benda para sahabat. Abdurrahman bin ‘Auf langsung menyerahkan dua ratus uqiyah emas.
Pernah suatu ketika, dalam sekali duduk, Abdurrahman bin ‘Auf pernah mengeluarkan sedekah sebesar 40 ribu dinar. Ia juga membiayai peperangan dengan menyediakan 500 ekor kuda tempur lengkap dengan senjata. Tidak hanya itu, sebanyak 500 unta disiakan Abdurrahman bin ‘Auf untuk mengangkut bekal pakaian serta makanan.

Mengetahui hal tersebut, Umar bin Khathab berbisik kepada Rasulullah: “Sepertinya Abdurrahman berdosa karena tidak meninggalkan uang belanja sedikit pun untuk keluarganya.”
“Apakah kau meninggalkan uang belanja untuk istrimu?” tanya Rasulullah SAW kepada Abdurahman bin ‘Auf.
“Ya,” jawabnya. “Mereka kutinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripada yang kusumbangkan,” imbuhnya.
“Berapa itu?” tanya Rasulullah.
“Sebanyak rejeki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah,” tegas Abdurrahman bin ‘Auf.

Dijamin Surga
Abdurrahman bin ‘Auf termasuk pasukan Islam ketika perang Badar. Dalam perang itu, ia berhasil menewaskan musuh-musuh Allah diantaranya Umar bin Utsman bin Ka’ab at-Taimy. Begitu juga dalam perang Uhud, ia tetap bertahan dengan gigih disamping Rasulullah. Ketika perang Tabuk, Abdurrahman bin ‘Auf bahkan menjadi imam salat berjamaah tentara muslimin.

Atas keteguhan dan kegigihan mempertahankan iman, menjadikan Abdurrahman bin ‘Auf salah satu dari sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira masuk surga oleh Rasulullah SAW. Ia termasuk enam orang sahabat yang ditunjuk oleh khalifah Umar bin Khatab RA untuk bermusyawarah memilih khalifah. Selain itu, ia adalah seorang mufti yang dipercayai Rasulullah berfatwa di Madinah selama beliau masih hidup.

Termasuk keagungan lain dari Abdurrahman bin ‘Auf adalah pemberian kesejahteraan bagi ummahat al-mukminin. Dalam satu riwayat Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya mereka yang memelihara keluargaku setelah aku meninggal dunia, adalah manusia yang benar dan manusia yang mempunyai kebajikan.” Abdurrahman adalah salah seorang sahabat yang menjaga kesejahteraan dan keselamatan ummahat al-Mukminin setelah nabi wafat.

Menangis Karena Kekayaannya
Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Abdurrahman bin ‘Auf menangis. Ia kemudian ditanya apa yang menyebabkannya menangis. Sambil terisak, ia menjawab, “Sesungguhnya Mas’ab lebih baik dariku karena ia meninggal dunia di zaman Rasul dan ia tidak memiliki sepotong kain yang dapat dijadikan kafan untuk membungkusnya. Sungguh Hamzah bin Muttalib lebih utama dariku, ia tidak mempunyai kain yang dapat dijadikan kafan untuk memakamkannya. Saya khawatir termasuk di antara orang-orang yang dipercepat menikmati kebahagiaan dunia dan tidak termasuk dari para sahabat Nabi di akhirat sebab mempunyai banyak harta.”

Dalam satu riwayat yang lain diceritakan, ketika Abdurrahman bin ‘Auf memberikan makanan pada tamunya, beliau tiba-tiba menangis. Tamunya bertanya, “Mengapa engkau menangis Ibnu ‘Auf?” Abdurahman bin ‘Auf menjawab, “Nabi telah wafat, sedangkan ia dan keluarganya tidak pernah kenyang oleh roti gandum.”

Pada tahun 31 Hijriyah, Abdurahman dipanggil Allah ke sisiNya dalam usia 75 tahun. Jenazahnya telah dikebumikan di Baqi’. Dalam sambutannya saat pemakaman, Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata, “Engkau telah mendapatkan kasih sayang Allah, dan engkau berhasil menundukkan kepalsuan dunia. Semoga Allah selalu merahmatimu.”

[M. Umar Faruq Hs]
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih telah berkomentar