Kamis, 28 November 2013

Opini Remaja: Kebiasaan Atau Adat?



Fikiran manusia berbeda, begitu pula polanya. Perbedaan inilah yang menjadikannya sebuah kebiasaan. Ketika kebiasaan kebiasaan ini telah merambah dalam sebuah komunitas maka kebiasaan ini berevolusi menjadi sebuah adat. Adat akan dijadikan sebuah hukum, patokan dan undang-undang dalam komunitas tersebut.

            Sudah sering terjadi disekeliling kita upaya pemberantasan narkotika, miras, dolly dan yang lainnya, tapi hanya membuahkan sebuah hasil yang kurang memuaskan. Hal ini jika ditilik dari segi eksistensinya adalah karena hal tersebut sudah menjadi kebiasaan. Karena anak-anak muda yanng telah menjadikannya sebuah kebiasaan dan adat,  sehingga pemerintahpun tak sanggup merubahnya.


            Para ulama’pun tak ketinggalan, mereka tetap berusaha menanggulangi bencana kebobrokan moral anak muda dengan berbagai cara, tapi hasilnyapun sangat kurang dari memuaskan.

            Kita contohkan tentang kasus berumbarnya aurat yang merajalela. Dengan alasan trendy, gaul dan sebagainya mereka mencoba meniru gaya-gaya kebaratan yang dulu dibilang tabu menjadi sebuah kebanggaan. Bahkan tak jarang para orang tua yang dulunya menanggap hal tersebut merupakan aib, sekarang merupakan sebuah keharusan yang tidak boleh ditinggal. Semua karena satu hal “menyesuaikan zaman”.

             Kita sebagai santripun harus prihatin dengan hal-hal diatas. Dimulai dengan merubah kebiasaan buruk diri sendiri. Karena jangan sampai kebiasaan buruk yang kita anggap remeh kemudian ditiru orang lain dan menjadi adat. Bukankah kita akan menanam benih jariah keburukan?.

            Memulai dengan kebiasaan baik yang terlihat remeh, seperti membuang sampah pada tempatnya, tidak menggasab, mencuci piring atau gelas pada tempatnya, menaruh baju pada tempatnya dan lain sebagainya. Trendy bukan segalanya, gengsi bukan yang utama.dan semua adalah dimulai dari diri sendiri.

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih telah berkomentar