Minggu, 29 September 2013

Ketika Mereka Meraih Kilau Gemilang

Setelah sukses dengan pergelaran M2QK antar ribath (asrama) yang diselenggarakan beberapa bulan yang lalu, kali ini ponpes Langitan seakan tertimpa durian runtuh setelah para punggawanya berhasil memboyong puluhan trofi dalam Musabaqoh Qiro’atil Kutub (MQK) di masjid Agung Tuban, selasa (10/9). Tidak tanggung-tanggung, 15 dari 20 peserta putra yang dikirim oleh pp. Langitan berhasil merebut juara 1 dalam perlombaan tersebut. bukan hanya itu, di ponpes putri bahkan terjadi persaingan sengit antara pondok barat (Mujibiyah) dan pondok timur (Arraudhoh) yang mengakibatkan sebagian dari 40 peserta (20 Mujibiyah dan 20 Arraudloh) berhasil membabat habis 20 juara pertama dalam perhelatan tersebut. Perolehan prestasi yang gemilang ini membawa ponpes Langitan menjadi juara umum di tingkat kabupaten Tuban.

Bukan hal yang tidak mungkin jika teman-teman kita berhasil menoreh prestasi terbaik dari 250 peserta yang dikirim dari beberapa pesantren salaf di Tuban. Pasalnya mereka pun sudah mempersiapkan semuanya sejak lama sebelum musabaqoh. “ya, saya sudah lama diberi tahu akan hal itu, dan sejak bulan Ramadhan kemarin saya sudah mulai mempersiapkan belajar” ujar Bahrul hikam yang mewakili di bidang nahwu Alfiyah. Hal itu juga tidak jauh beda dengan para peserta yang lainya. Namun lain halnya dengan Muhammad Farid. Santri jebolan Ente Kafi yang maju dengan optimis di bidang fiqih Fathul Mu’in ini hanya melakukan persiapan selama 10 hari sebelum hari H. Entah kenapa santri asal Laren Lamongan ini bisa sesantai itu menanggapi hal tersebut. Mungkin dia memang tidak pernah mengambil pusing dengan masalah MQK . “yo kang, kate sinau yo malah gak iso melbu” begitu komentar singkatnya.
Meski para peserta sudah memiliki jam belajar yang cukup lama, bukan berarti mereka bisa seenaknya menganggap enteng itu semua. M. Farid yang bersikap masa bodo dengan MQK ini pun mengaku dengan tekun ia mengamalkan semua ijazah dari para masyayikh, “yang paling susah adalah ijazah dari Yai dullah, yaitu baca surat Alquraisy 7 kali tanpa bernafas” ungkapnya. berbeda dengan Sahal Maftuh. Santri asal kuningan Jawa Barat ini lebih menekankan kiyat usahanya dengan mengikuti bimbingan khusus kepada ustadz Asrori setiap malam seusai musyawarah. “ya, biarpun bolong-bolong, saya tetap semangat mengikuti bimbingan itu“. Begitu ungkapnya.
Berbagai usaha persiapan telah dilakukan oleh para peserta. Bahkan rangkaian doa pun tidak pernah luput dari komat-kamit mulut mereka. Meski demikian banyak juga teman-teman kita yang merasa gugup saat sebelum tampil di perlombaan. Bahkan kabarnya ada juga yang sampai tidak nafsu makan. Namun ada pula teman kita yang memanfaatkan kondisi ini untuk mengamati peserta lain yang sedang tampil untuk menambah ilmu  saat dia tampil nanti. Menurut pengakuanya dia tidak merasa gugup dengan hal tersebut “yah biasa-biasa sajalah, gugup sih sedikit, tapi setelah tampil aq merasa plongg…..” ujarnya yang namanya terpaksa penulis kosongkan.
Setelah sukses menggondol 15 trofi (karena kelima peserta yang lain hanya memperoleh juara 2 dan 3), selanjutnya mereka akan dikirim ke musabaqoh setingkat profinsi di Madura pada tanggal 1 oktober mendatang. Persiapan pun semakin gencar mereka lakukan sejak dini, mengingat pada tahun sebelumnya perwakilan dari Tuban meraih juara umum dalam MQK tersebut. “ya, saya akan semakin serius untuk mempersiapkan tantangan berikutnya” ucap Sahal Maftuh dengan penuh semangat. Ucapan senada juga diungkapkan oleh M. Farid. Kali ini dia mempunyai siasat tersendiri  untuk menghadapi MQK besok “saya akan tetap belajar dan mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi besok. Maksud,e pas ditako’I gak iso waktu MQK wingi bakal tak pelajari maneh”, katanya dengan nada yang santai.

Dengan menancapkan semangat yang membara, para peserta optimis bisa mengulang kembali prestasi  sebelumnya. Selanjutnya jika mereka berhasil lolos di tingkat profinsi, mereka akan dikirim kembali untuk mengikuti MQK di tingkat nasional. Sebuah kebanggaan yang besar jika mereka berhasil menjuarai musabaqoh di tingkat tersebut. Meski demikian, hal ini bukanlah menjadi tujuan utama yang mereka cari di musabaqoh. Sebagai mana ucapan Gus Adib yang terangkan kembali oleh salah satu peserta kita, tujuan kita bukanlah untuk menjadi juara, tapi untuk menghidupkan kalimat salafy di belahan nusantara., li I’lai kalimatis Salaf.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih telah berkomentar