Rabu, 26 Juni 2013

Opini Santri: Susah


Sudah pasti semakin jatuh taraf kemiskinan atau sebuah finansial yang dimiliki seseorang maka akan semakin besarlah kesusahan yang timbul dari perkara tersebut. Tapi, dalam hal ini timbulnya kesusahan bagi sebagian-atau yang lebih tepat adalah segelitir- manusia adalah tidak berlaku, dalam artian keterbatasan material atau kebutuhan manusia itu tidaklah membuat internal diri menjadi susah dan diekspresikan oleh eksternal diri dengan suatu kegelisahan. Mudahnya saja, meskipun saja tidak punya uang tapi hati tetap saja merasa senang. Contohnya seperti orang-orang yang mengikuti jejak para sufi yang tidak tertarik pada gemerlap dunia.

“Susah” memang diciptakan Allah SWT untuk semua manusia. Dia ditempatkan pada software manusia yaitu otak. Otak akan merespon tekanan-tekanan sesuatu dari luar yang membuat susah.  Semisal, pemerintah pada 1 April nanti akan menaikan harga BBM. Dengan respon yang sangat cepat, rakyat langsung melakukan penolakan, mereka meluruk ke jalan untuk berdemo. Hal ini dari sebab pemikiran panjang akibat kenaikan BBM. 

Dengan naiknya BBM, harga sektor lain pasti juga akan ikut naik, seperti harga pokok setiap hari, ongkos transportasi. Kenaikan yang timbul tersebut diakibatkan semua kebutuhan yang ada itu membutuhkan pendistribusian dari produsen, yang mana pendistribusian itu pasti membutuhkan kendaraan yang juga pasti butuh pada BBM. 

Dari sini maka masyarakatpun berpikir, harga kebutuhan akan naik, berarti biaya rumah tangga dan biaya sehari-hari juga akan naik juga dan parahnya hal tersebut tidak didukung dengan upah gaji yang tidak dinaikan. Akibatnya kesusahan akan melanda. Selain itu menurut sebagian pengamat ekonomi angka kemiskinan akan melonjak.

Sebab lain dari rasa susah adalah sebuah kehilangan, rasa susah akan selalu menghinggap kepada seseorang yang sedang kehilangan sesuatu yang dia miliki apalagi yang dia sukai, seperti kekasih, barang kesayangan, ditinggal oleh ortu dan lain sebagainya. 

Berangkat dari sini, penyakit susah itu ada kaitan erat dengan masa lalu, sekarang dan masa depan, oleh sebab itu, kita dapat mengambil kesimpulan, sebab dari susah itu dapat dibagi lagi menjadi tiga bagian:

1. Aspek fisik
Meliputi penilain individu terhadap segala sesuatu yang dimiliki oleh individu tersebut, seperti tubuh, tubuh yang dimiliki oleh seseorang yang gemuk akan bisa mengakibatkan sebuah kesusahan yang muncul karena kurangnya kepercayaan diri.

2. aspek sosial
Meliputi bagaimana peranan sosial yang dimainkan oleh individu dan sejauh mana penilain individu terhadap performanya dalam lingkup sosial. Seperti contoh kenaikan harga BBM, sebagaimana di atas tadi.

3. aspek psikis
Meliputi pikiran, perasaan, dan sikap-sikap individu terhadap dirinya sendiri seperti kehilangan orang-orang yang dicintai, pusing memikirkan pelajaran, dan lain sebagainya.

Permasalahan yang timbul dari rasa susah itu tidak boleh dibiarkan begitu saja, efek samping dari susah yang berkempanjangan itu dapat mengakibatkan stres, depresi, trauma dan lebih-lebih akan mengakibatkan kegilaan, dan bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Kebanyakan orang-orang yang mengidap penyakit susah itu biasanya terlalu memikirkan yang disenangi yang sangat ingin didapatkan, ada dorongan yang kiau untuk mendapatkannya tapi bagian eksternal diri (yang dapat diartikan dengan kesosialan dan kemampuan manusia itu sendiri
) itu tidak dapat mendukung. Atau dengan kata lain, susah itu berhubungan dengan nafsu syahwat, nafsu syahwat itu jika tidak dituruti maka akan menimbulkan rasa susah dalam hati. 

Jadi dapat kita ambil kesimpulan, bahwa rasa susah itu adalah hal yang bersifat rasa dan maknawi. Da susah itu dapat dikendalikan oleh manusia itu sendiri. 

Cara mencegah diri dari rasa susah adalah dengan melatih diri untuk senantiasa tawakal kepada Allah SWT, kita tetap berusaha, tapi Allahlah yang akan menentukan hasilnya. Dengan demikian diri kita akan senatiasa siap menerima hasil apapun yang akan kita dapat. Seorang ilmuwan dari Eropa mengatakan “susah itu tidak akan terjadi kecuali manusia itu sendiri yang memikirkan susah”. Jadi, mengapa harus susah, toh tidak ada gunanya.

oleh Mada Aziz

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar