Rabu, 26 Juni 2013

Opini Santri: Pemimpin bijak, lahir dari rakyat yang baik



Gubernur (Pilgub) Jawa Timur merupakan hal yang hangat-hangatnya diperbincangkan saat ini. Beberapa surat kabar selalu menampilkan berita-berita terbaru mengenai perkembangan Pilgub tersebut di setiap harinya sejak beberapa bulan yang lalu. Begitu pula dengan siaran televisi lokal maupun nasional yang menayangkan berita yang lebih up-to-date. Dan sebentar lagi ribuan poster akan terpampang dalam reklame-reklame di tempat umum dan pinggir jalan raya. Stiker-stiker dan kaos degan gambar pasangan cagub dan cawagub pun akan banyak tersebar khususnya pada rakyat kalangan menengah kebawah.

Tak lama lagi perhelatan akbar pemilihan gubernur jawa timur yang diselenggarakan setiap empat  tahun sekali untuk memilih sesosok pribadi yang akan memimpin di daerah terpadat kedua se-Indonesia. Beberapa orang dengan kecerdasan, kekayaan, dan elekbilitas yang tinggi berusaha merebut kekuasaan di mana mereka akan menjadi orang nomor satu se-jawa timur. Berbagi cara mereka tempuh untuk mencapai keinginan tersebut. Termasuk dengan mencari pasangan terbaik untuk menjadi wakilnya. Mereka juga berebut mencari dukugan dari partai politik besar pemegang kursi maupun yang non-pemegang kursi.  Mereka juga berusaha untuk menggaet tokoh-tokoh yang memiliki reputasi tinggi, mulai dari tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat, dan tak kalah tokoh-tokoh dari kalangan artis pun menjadi sasaran empuk mereka sebagai kendaraan untuk melaju dalam Pilgub tersebut.

Karena ketatnya persaingan tersebut, tak ayal banyak dari mereka yang menghalalkan segala cara. Banyak kecurangan-kecurangan yang mereka lakukan untuk menang dari pasangan lawan. Rakyat jelata pun menjadi sasaran. Mereka diharapkan untuk membuat tim khusus untuk mendapat dukungan dari rakyat dengan iming-iming pesangon pemberian pasangan calon dan wakil bupati. Rakyat kecil yang notabenenya hidup serba kekurangan pun banyak yang tergoda oleh tawaran tersebut. Suara mereka sebagai pemilih yang sah untuk memilih pemimpin seluruh rakyat daerah jawa timur terjual hanya dengan lembaran uang yang tak berharga. Yang lebih memprihatinkan lagi kebiasaan menyuap tersebut sudah dianggap menjadi tradisi dan mereka tunggu-tunggu setiap empat tahun sekali.

Tak bisa dipungkiri lagi, negara kita semakin terpuruk dengan buruknya kualitas pemimpin yang ada. Banyak dari mereka menyalahgunakan kekuasaannya. Mereka hanya mengincar pangkat, kepopuleran, dan kekayaan. Sudah tak bisa kita hitung lagi kasus-kasus yang diperbuat oleh para pemerintah. Mulai dari korupsi, mengkonsumsi narkotika, melakukan hubungan seks di luar nikah, dan banyak lagi perbuatan mereka yang bisa menghancurkan bangsa.

Lantas, apa yang harus kita lakukan untuk menghentikan kebudayaan buruk yang sudah menjamur tersebut?. Mengolok-olok, mengkritik, atau berdemo untuk mengadilinya?. Atau bahkan kita hanya berdiam dan membiarkan keburukan itu terus berlanjut?. Hal-hal tersebut tak akan bisa menghentikan kebiasaan buruk para pemerintah nakal. Karena pasti selalu ada calon-calon pemerintah nakal lain yang akan meneruskan kebiasaan tersebut. 

Pada masa kekhalifahan Dinasti Abbasiyah, seorang rakyat memberanikan diri untuk menemui sang Khalifah dan menegurnya. Ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, kenapa engkau tidak bisa memimpin kami seperti saat Abu Bakar r.a. menjadi khalifah di masa itu?”. Dengan enteng sang Khalifah pun menjawab, “Karena kalian tak pernah bisa menjadi rakyat seperi saat masa kekhalifahan Abu Bakar r.a.”. Dari sepenggal kisah tersebut kita dapat mengambil pelajaran darinya, jika kita menginginkan pemimpin yang adil dan peduli dengan rakyatnya, kita juga harus bisa menjadi rakyat yang baik dan mengerti kewajiban yang harus kita penuhi. Jangan sampai kita menyalahkan pemerintah yang korupsi sedangkan kita juga melakukannya. Menyebut mereka sebagai pencuri, tetapi kita senang jika diberi hasil curian tersebut. Menganggap mereka sebagai kriminal, sedangkan kita juga sering melanggar aturan. Maka dari itu kita sebaiknya bercermin, seperti apa diri kita ini sebelum mencela orang lain. Termasuk salah satu kewajiban kita sebagai rakyat adalah dengan memilih pemimpin yang baik luar dan dalam. Jangan sampai hak kita dibeli hanya dengan materi. Karena pada akhirnya, kita akan dibayar dengan kekecewaan dan penyesalan setelahnya. Think before doing, if you don’t want to be fooling.

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih telah berkomentar