Senin, 24 Juni 2013

Mari Bersama-sama Melepas Kopyah (Presentasi Kebiasaan Negatif Santri saat Liburan ala Pangeran Senja*)

Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini, boleh Anda mengucapkan istighfar, sholawat (sholawat masyisiyah misalnya), doa daf’il bala’ dan dzikir yang lain. Sama sekali tidak ada niat untuk menciptakan provokasi, kami hanya bertendensi pada realita yang ada, sebuah fenomena yang menurut kami sungguh memilukan. Dimana santri sudah tidak yakin atau tidak mau memperlihatkan identitasnya. Salah satu contoh yang mudah adalah, euforia santri putra ketika liburan, beramai-ramai dan berbangga diri atau malah dianggap biasa bila ia mencopot kopyah atau pecinya. Menjadi agak mencengangkan kalau santri putri juga beramai-ramai melepas jilbab!. Subhanallah. Kalau ini terjadi, mari kita cepat-cepat mengadakan istighotsah akbar, karena ini adalah bencana besar bagi Islam!. Khususnya pesantren. Allahu yahfadz.

Pentingkah Kopyah Bagi Santri?
Penampilan fisik dalam hal ini cara berpakaian akan menimbulkan persepsi tersendiri bagi karakteristik seseorang, seperti gambaran mengenai kepribadiannya atau kompetensi yang dimilikinya. Bahkan dengan hanya melihat fisiknya (pakaian) saja, akan bisa menggambarkan karakter dan pribadinya.
Pakaian yang dikenakan seseorang menandakan ciri-ciri utama dari pemakainya. Disadari atau tidak, tujuan dari cara berpakaian seseorang adalah membuat kesan pribadi yang bervariasi. Mungkin saja, pakaian yang dikenakannya mencerminkan diri yang cerdas, santai, pendiam, bertanggungjawab, fashionable dan lain-lain. Hal ini tentunya menjadi simbol bagi pribadi yang ingin ditunjukkan. Bagi santri yang sudah dibekali tidak hanya ilmu agama tapi juga diajarkan tatacara/akhlak santun dan sopan saat berpakaian, tentu keharusan berpakian yang rapi ala santri patut ditekankan. Salah satunya kopyah atau peci.

Budayakan Berkopyah
Sejarah mencatat, budaya peci identik bagi rakyat indonesia di dunia bermula dari sosok Soekarno. Konon, selesai menjalani pembuangan di Bengkulu bersama keluarga dan para pembantunya pada tahun 1942. Soekarno mampir ke Pesantren Darul Funun al Abbasiyah, di desa Padang Japang, Guguk, Kabupaten Lima Puluh Koto, Sumatera Barat asuhan Syekh Abbas Abdullah sahabatnya.
Syekh Abbas menghadiahi Soekarno peci hitam sambil berpesan “Peci ini kuberikan supaya Indonesia berdasarkan ketuhanan dan kamu menyadari bahwa bangsa Indonesia ini mayoritas umat Islam.” Akhirnya, peci hitam itu menjadi ciri khas visual proklamasi dan perjuangan Soekarno di tahun-tahun kemudian. Peci itu menjadi benda seni yang mewakili kehebatan sosok yang memiliki andil besar dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di kemudian hari, bahkan menjadi ciri khas orang Indonesia. Hatta yang tak biasa berpeci selama sekolah di Eropa, akhirnya mengikuti Soekarno berpeci pada saat-saat tugas kenegaraan dan hingga sekarang diikuti dan menjadi bagian penting dari busana resmi presiden-presiden Indonesia. Lihat saja, Presiden selanjutnya, Soeharto, BJ. Habibie, Gus Dur, dan Susilo Budhiyono tampil dengan peci sebagai baju resmi kepresidenan.
Mari dengan berbangga diri membudidayakan kopyah sebagai identitas keislaman dan kesantunan juga keindahan seorang santri. Ilmu Allah dan ajaran para masyayekh tentang kehidupan, sudah sangat cukup sebagai modal buat kita untuk menguatkan keyakinan bahwa, bersarung dan berkopyah bukanlah hal yang memalukan. Tapi, budaya salafiyah itu justru simbol keanggunan seorang santri yang berpendirian kokoh. Semangat saudara..!!

Kopyah dalam Pandangan Syariat
Menurut Islam, hukum memakai peci sunnah bagi laki-laki saat sholat (HR Bukhari I/498, Muslim hadits No 516), memasuki kamar kecil dan di daerah yang kebiasaan tempatnya memakai tutup kepala (Bughyah Al Mustarsyidin I/182). Memakai peci sudah dapat mencukupi kesunahan memakai sorban (Dur Al Ghamamah hal. 2). Sebagian para Masyayekh menyatakan kebagusan (istihsan) terutama di kalangan Syekh Abdul Qadir Al Jailani (Al Fatawa Al Fiqhiyah Al Kubra I/266).
Lebih jauh lagi, Imam Haramain, Imam Ghozali, Imam Al Baghowy dan Ulama-ulama lainnya dalam Al Majmu’ ala Syarh al Muhaddzab II/92 mengatakan, “Sunah bagi seseorang tidak memasuki kamar kecil (WC) tanpa penutup kepala. Ashhab Syafii berkata, ‘Bila tidak menjumpai sesuatu, maka letakkan lengan baju di atas kepalanya’. Rasulullah Saw saat memasuki kamar kecil memakai sepatu dan menutup kepalanya” (HR Baihaqi). Bahkan, kalangan Hanafiyah menilai makruh bagi laki-laki sholat dengan terbuka kepalanya (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah XXX/304).
Orang-orang yang tidak memakai tutup kepala (kopyah) tidak bisa diterima persaksiannya. Karena ia tidak memiliki keperwiraan (wibawa). Barang siapa yang meninggalkan keperwiraan bersifat manusiawi dimungkinkan ia bersaksi palsu. Pun, apa yang dilakukannya tidak usah dipedulikan karena ia sudah tidak mempunyai rasa malu (meninggalkan keperwiraan). Dalil yang dibuat sandaran dalam masalah ini adalah riwayat Abu Mas’ud Al Badry bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sesungguhnya sebagian perkara paling utama yang ditemukan dari kalam nubuwah adalah : Bila tidak punya rasa malu, maka berbuatlah semaumu!.” (Al Majmu’ ala Syarh Al Muhaddzab XX/227).

Harus Percaya Diri
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), arti percaya : mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata, dan diri : seorang diri; tidak dengan orang lain, tidak dibantu (dipengaruhi) orang lain, tidak diperintah orang lain. Bila digabungkan arti percaya diri adalah, keyakinan akan dirinya tanpa adanya pengaruh dan perintah orang lain.
Tatsbitul yakin fi nafsi tullabil ilmi atas apa yang melekat dalam dirinya adalah proritas dan tolok ukur. Karena Percaya diri adalah salah satu aspek dari kepribadian individu yang harus dimiliki. Sikap percaya diri seperti pernyataan tersirat dari diri sendiri bahwa, diri memiliki kemampuan dan bangga dengan apa yang dilakukan secara positif. Namun, masih banyak khususnya anak muda memiliki rasa tidak percaya diri dan berujung ke minder, hal ini tentu sangat mengkhawatirkan.
Bentuk rasa percaya diri terbangun dari kondisi mental. Secara psikologis memberi pengaruh kuat pada seseorang untuk mempertunjukkan suatu hal. Kurangnya rasa percaya diri mengakibatkan sebuah individu minder dan kerapuhan mental. Ini manhaj yang perlu dijahui santri.
Masalah yang akan timbul bila tidak percaya diri adalah adanya self concept yang negatif yang akan tertanam di dalam diri individu. Dampaknya akan merasakan kekurangan percaya diri pada kemampuan diri, tidak bangga dengan identitasnya sendiri. Santri, sebagai generasi yang dibekali ilmu Allah tentu mengherankan bila tidak percaya diri dengan kesantriannya, dan malah bertasyabbuh ria dengan mode dan fashion luar yang belum tentu memberikan efek positif.

Kopyah Adalah “Aurat” Santri
Kopyah kami katakan “aurat” karena arti aurat sendiri adalah sesuatu yang buruk, tidak menyenangkan, onar, aib, tercela. Keburukan yang dimaksud tidak harus dalam arti sesuatu yang pada dirinya buruk, tetapi bisa juga karena adanya faktor lain yang mengakibatkan “buruk”. Tidak berkopyah bukanlah keburukan mutlak, karena Islam tidak mewajibkannya. Tetapi, dalam konteks kesantrian dan lembaga pesantren, “aurat” (kopyah) dipahami sebagai perkara yang tidak boleh ditinggalkan dalam rangka menjaga wibawa muslim dan syiar pesantren. Sehingga, terbukanya “aurat” (kopyah) akan membawa implikasi sosial yang negatif, tidak hanya bagi dirinya (santri) tapi juga menyeret nama pesantren.
Bila santri sudah merasa tidak percaya diri dan tidak malu meninggalkan identitasnya yang berupa kopyah atau kesopanan berpakaian. Maka, lakukanlah dan tidak usah peduli dengan apa yang akan dia lakukan. Fashna’ ma syi’ta perkataan dari Nabi yang menggambarkan orang yang tidak punya rasa malu, cukup menjawabnya. Bila perlu, sediakan tong sampah di depan pintu gerbang pesantren, sebagai tempat santri membuang jubah, sorban, baju koko, dan kopyahnya ketika pulang liburan ke rumah. Wallahu a’lam.

*Penulis asal Pulau Seribu Satu Langgar Madura
Juara III Nasional, Lomba Menulis LKTI PP Tebuireng Jombang.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih telah berkomentar