Jumat, 25 Januari 2013

kasus : Sarungan Kok Gengsi


seorang santri selalu saja memiliki sebuah ciri khas yang bisa mengeluarkan kesan yang berbeda dari orang-orang lainya. Ibarat sebuah tanaman hias yang tetap kentara meski tumbuh di tengah hutan sekalipun. Mereka seperti memiliki sebuah identitas tersendiri akan status yang mereka sandang. Sebuah identitas yang sekaligus menjadi mahkota harga diri mereka.
Perlu diingat bahwa Identitas santri bukan hanya sekedar tanda pengenal yang tertulis dalam selembar kartu KTS, lebih dari itu terdapat sebuah simbol yang menampakan ciri khas seorang santri, yakni sarungan dan kopyahan(baca : memakai sarung dan songkok). Setidaknya tidak usah dipertanyakan lagi jika sarung dan kopyah adalah pakaian wajib bagi kaum santri di lingkungan pesantren. sayangnya hal itu tidak banyak berlaku bagi santri ketika sudah beranjak dari kawasan suci tersebut. Sering para santri saat berada di luar area pesantren, mereka dengan santainya melepas sarung dan kopyah, lalu menyulap keduanya menjadi celana jeans yang lebih gaul. Apalagi pada musim-musim liburan. Busana sarung dan kopyah mungkin hanya akan dipakai ketika hendak sholat atau menghadiri kundangan. Dengan demikian masyarakat sekitar bahkan tidak bisa mengenali kalau mereka adalah santri.

             satu diantara penyebabnya adalah munculnya rasa gengsi untuk menampakkan busana yang mereka anggap tidak sesuai dengan lingkungan luar.
Yah..kata itulah yang biasa dipakai alasan untuk meng-qulibat sarung dan kopyah menjadi celana jeans atau skeater yang nampak trendy. kebanyakan santri tersebut gengsi memakai sarkop (sarung dan kopyah) ketika sudah bergaul dengan komunitas non sarkop, itu karena santri tersebut tidak pede menjadi diri sendiri, akhirnya ikut-ikutan menjadi non sarkop. Bahkan ada pula yang menutup-nutupi kegengsianya dengan dalih beradaptasi dengan linkungan.
Gengsi juga biasa terjadi ketika seorang santri diolok-olokin (digojlokin) oleh teman-temanya yang notabenenya bukan kalangan santri. Akibatnya santri tersebut jadi minder dan enggan memakai sarung. Ironis memang, seorang santri yang biasanya menter terhadap segala macam gojlokan, dalam kasus ini ia tak bisa mempertahankan pendiriannya sehingga dengan mudahnya termakan oleh gojlokan mereka.
Santri juga sering merasa gengsi ketika memakai sarkop di tempat umum seperti pasar atau supermarket. Santri ini merasa kalau dirinya dianggap norak alias kolot. Itu mungkin karena tingkah lakunya yang terkesan “unyak-unyuk” sehingga orang yang melihatnya menganggap dia kampungan. Kalau saja santri tersebut bisa bertingkah lebih sopan dan elegan, niscaya orang-orang akan menghormatinya layaknya menghormati seorang ustadz ataupun kiyai.
Kalau sudah demikian, akankah seorang santri pantas dikatakan santri jika dengan kesantrianya sendiri saja ia merasa gengsi. Dan akankah tradisi gengsi akan terus menjamur dalam kalangan santri. Semua tergantung pada diri santri itu sendiri. Sejauh manakah kadar keikhlasan dan ketakwaan mereka selama tinggal di pesantren. Sehingga mereka dengan sepenuhnya menjadi seorang santri yang fleksibel. tidak sekedar santri yang hanya berlaku di pesantren saja. Walllahu a’lam bissowab
 Istahilagi
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih telah berkomentar