Selasa, 14 Agustus 2012

TAUSIYAH HABIB ALWI ASSEGAF: Adab Dalam Mencari Ilmu


Kegiatan jam'iyah para santri di PP. Langitan

   Sebuah karunia, nikmat dan   anugrah yang besar dari Allah adalah  dipilihnya kita menjadi seseorang yang diberi kesempatan untuk belajar ilmu agama, kita seharusnya bersyukur karena telah diberi sebuah karunia dan kenikmatan yang luar biasa dari Allah SWT. Sebab belajar ilmu agama, keberadaan kita di pesantren ini bukanlah karena kekuatan ataupun kehendak kita, tapi itu semua karena kita telah dipilih oleh Allah menjadi seorang yang baik di Dunia ataupun di Akhirat.

Ilmu itu merupakan sesuatu yang mulia dan berharga, sehingga tidak akan diberikan begitu saja kepada sembarang orang. Anggap saja sebuah permata, seseorang tidak akan rela menitipkan benda berharga tersebut kepada orang yang tidak dia percaya, tapi dia akan menitipkannya kepada orang yang dia anggap Amanah. Dan ilmu itu lebih berharga dari pada permata, karena ilmu adalah warisan para Nabi. Kita dapat tanda diberi kesempatan oleh Allah belajar Agama itu berarti kita adalah pilihan Allah SWT. Tinggal
kita mau amanah atau tidak untuk menjalankannya, sesungguhnya kita ini sedang berada dalam pengawasan dan diuji oleh Allah, Dan Insya Allah santri yang amanah akan diberikan kemudahan oleh Allah SWT.

Islam itu bisa berdiri tegak atas dasar ilmu dan pengetahuan, oleh karena itu tidak pantas bagi seorang muslim jauh dari cahaya ilmu, ketahuilah bahwa mempelajari , mengamalkan dan mengajarkan ilmu agama      I itu lebih unggul dari pada amalan – amalan lain untuk   mendekatkan diri kepada Allah, maka dari itu dengan  ilmu agama kita bisa lebih dekat dengan Sang Kholiq,    karena ilmu itu adalah Asasul Ibadah. Allah tidak akan me  menciptakan Manusia dan Jin kecuali untuk beribadah  kepadaNYA , sedangkan dasar dari semua ibadah adalah ilmu, sepeerti yang diterang kan dalam kitab  matanul Zubad

بغير علم يعمل  #  اعماله مردودة لا تقبل وكل من

               Setiap orang yang beramal tapi tanpa   menggunakan ilmu itu amalnya tidak diterima alias ditolak, seperti contoh suatu kejadian yang kerap kali terjadi di kalangan orang awam, yaitu ibadah Haji, mereka berpikir pokoknya ada uang dan mampu itu sudah cukup, padahal mereka dituntut untuk mengerti tata cara ibadah Haji, akibatnya ada kejadian dari salah seorang diantara mereka yang ingin mencium Hajar Aswad tapi dia lakukan dengan cara  mendorong, mendesak, bahkan sampai menyakiti orang lain, padahal kelakuan yang semacam itu hukumnya adalah Haram, dan dia melakukannya demi amalan yang hukumnya sunah. Demikian ini seharusnya tidak terjadi jika seseorang mempunyai ilmu.

Ilmu adalah Manba’ul Khoirot sumber kebaikan, tidak ada suatu kebaikan yang tidak lewat dari ilmu dan itu pasti, sedangkan kebodohan ad alah pangkal dari kejelekan, kejahatan dan sumber musibah. Sebab orang yang jahil itu pasti akan meninggakan tho’at dan mengerjakan maksaiat.
Kita kalau diceritakan tentang kebaikan orang-orang yang ahli ilmu itu pasti tidak akan ada habisnya

Sayyidina Abbas menerangkan keunggulan orang yang ahli ilm dengan orang yang beriman itu berbanding 700 derajat atau pangkat, dan dari satu pangkat ke pangkat berikutnya itu sejarak perjalanan 500 tahun.

Sebagai seoang santri kita harus bersyukur kepada Allah, semakin kita bersyukur maka Allah akan memberi  kelebihan kepada kita, karena kelebihan orang yang berilmu dibanding orang Abid itu sebagai mana bulan Purnama dengan bintang, bisa kita lihat bagaimana teragnya cahaya bulan Purnama dibanding bintang.

Santri itu muamalahnya langsung dengan Allah, dan jika di depan ustadz, kiyai ataupun tidak itu sama saja dalam artian tetap tawadhu’ dan sopan santun, karena setiap santri pasti menginginkan dirinya sukses di kemudian hari.

Habib Zen Al Athos menerangkan adab seorang yang alim, yakni kewajiban bagi seorang santri, diantaranya adalah :

1.      Thoharotul Qolbi
Membersihkan hati dan jauh dari pelanggaran. Kita di pesantren ini sebenarnya adalah latihan, manut pada peraturan dan suatu saat akan menjadi panutan, oleh karena itu sepatutnya bagi seorang santri untuk membersihkan hati darii segala kotoran paenyakit hati, agar gampang dalam mencari, menerima dan mendapatkan hasil Ilmu, kita semestinya melihat ke dalam hati kita, apakah hati kita ini sudah bersih atau belum. Imam Syafi’i saat belajar kepada imam Malik, ketika itu Imam Malik mengatahui kecerdasan Imam Syafi’I dan beliau berpesan “Hai Muhammad Bin Idris, takutlah kepada Allah dan jauhilah maksiat  karena kamu kelak akan meraih keistimewaan dan keberhasilan, sesungguhnya Allah telah menaruh cahaya di hatimu maka jangan padamkan dengan maksiat” .

Sahal bin Abdullah berkata : gak mungkin hati menerima cahaya dan sesuatu yang tidak disukai Allah

Santri yang menuntut ilmu itu pada dasarnya membawa wadah yang berupa Hati, sebagai ibarat seorang yang meminta Madu istimewa tapi dia membawa wadah yang kotor, maka orang yang memberi madu pasti akan merasa “eman”  untuk memberikan madunya, begitupun juga dengan Hati yang kotor , oleh karena itu seorang santri harus membersihkan hati dari segala macam penyakit hati.


2.      Ikhlas dalam mencari ilmu
Ikhlas dalam artian menata niat yang benar dalam mencari ilmuالأعمال بالنيات  إنما , santri yang beriat mencari ilmu untuk mendapatkan pengetahuan, mendapatkan ridho dari Allah, mengamalkan dan mengajarkam ilmunya akan diberi ke”gampang”an oleh Allah dalam mencari ilmu.Oleh karena itu kita perlu mengoreksi diri kita untuk menegakkan Syari’at Islam, Insya Allah jika niat kita benar maka ilmu akan menjadi bermanfaat.

3.      Tawadhu’ Wa Khidmatul Ulama’
Santri harus mempunyai sifat Tawadhu’, semakin bertambah ilmunya semakin bertambah pula tawadhu’nya, dan juga harus Khidmah pada Ulama’ dan Ahli ilmu.

Ibnu Abbas ketika berangkat untuk menuntut ilmu kepada guru beliau, begitu sampai di depan rumah guru beliau, ternyata pintu rumah dalam keadaan tertutup, akhirnya beliau menunggu di depan rumah guru beliau sampai setengah siang, meski di luar terkena angin dan debu beliau gak berani untuk pulang.

Syeh Baha’uddin As Subki pernah berangkat bersama ayahnya ke negeri Syam dengan menunggang kuda, di tengah jalan ada seorang petani yang lagi diskusi membahas pendapat Imam Nawawi, salah seorang dari mereka berkata : Qola Syaikh Nawawi, maka beliau langsung turun sebab mendengar seorang petani yang mengucapkan kalimat imam Nawawi

Imam syafi’i hafal Al Qur’an pada usia 4 tahun, mengumpulkan Hadits pada usia 7 tahun dan pada usia 15 tahun ayah beliau berpesan “hai anakku telah berakhir bagimu masa kanak-kanak, sekarang saatnya kamu berkumpul dengan orang-orang baik dan sholeh, kamu tidak akan beruntung berkumpul dengan ulama’ kecuali kamu membri manfaat kepada mereka

4.      Berusaha mencari manfa’at kapanpun, di manapun
Ilmu itu bukan hanya didapat ketika kita di kelas atau belajar tapi di manapun juga, kapanpun juga kita harus siap mencari manfaat sebuah pengetahuan, oleh karena itu segala macam informasi yang kita anggap sebagai catatan penting harus segera ditulis supaya tidak hilang,karena segala sesuatu yang ditulis itu lebih awet dari pada sesuatu diamalkan.

Imam syafi’i ketika belajar kepada imam malik pernah berkata ”saya menulis dengan jari dan tintanya adalah ludah saya”,

Seorang murid tidak akan mendapat futuh dari Allah dalam tolabul ilmi kecuali kecuali dengan mencari dan meyakini dalam hati bahwa dia sebenarnya tidak punya ilmu alias kosong. Di situ ia akan berupaya tarus untuk mencari dan mendapatkan ilmu.

5.      At Tahfif Minat Tho’am Wal Manam
Tidak pantas ilmu itu diterima  oleh orang yang suka makan sampai kenyang, jika perut terisi penuh pikiran akan lemes, tidak bisa diajak mikir dan malas untuk diajak ibadah. Imam syafi’i sejak 16 tahun tidak pernah merasakan yang namanya kenyang.

Tidurpun seharusnya juga perlu disunat waktuya, kita tidur enam jam itu sebenarnya sudah dianggap banyak. Banyak diantara orang orang yang tinggi derajatnya dan ia biasa sholat shubuh tapi wudhunya sebelum isya’, artinya dia tetap terjaga disepanjang malam untuk muthola’ah kitab-kitab atau beribadah kepada allah SWT.

6.      Hormat dengan mu’allim
Orang yang mencari ilmu seharusnya hormat dan rendah diri kepada orang yang mengajar ilmu. Sayyidina Ali Bin Abi Tholib berkata “ Ana Abdu Man ‘Allamani Walau Harfan Wahidan, aku  adalah hamba orang yang mengajariku walaupun satu  hanya huruf”.

Ilmu dan kefahaman itu dapat diraih seukuran dengan seberapa besar ta’dhim kepada guru, jika ta’dhimnya 100 % maka ilmu yang di dapat juga 100 %, dan  jika ta’dhimnya 80 % maka ilmu yang di dapat juga 80 %, dan guru itu ibarat  wakil dari Nabi Muhammad,

 Jika kalian susah dalam memahami pelajaran maka amalkanlah ijazah dari Habib Alwi Assgaf sebagaimana berikut ini :
1)      يا مبدئ يا خالق  dibaca paling sedikit 100 kali tiap hari
2)      Jika mau tidurbaik pagi ataupun malam hendaknya membaca
¨bÎ) Îû È,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur É#»n=ÏG÷z$#ur È@øŠ©9$# Í$yg¨Y9$#ur Å7ù=àÿø9$#ur ÓÉL©9$# ̍øgrB Îû ̍óst7ø9$# $yJÎ/ ßìxÿZtƒ }¨$¨Z9$# !$tBur tAtRr& ª!$# z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# `ÏB &ä!$¨B $uŠômr'sù ÏmÎ/ uÚöF{$# y÷èt/ $pkÌEöqtB £]t/ur $pkŽÏù `ÏB Èe@à2 7p­/!#yŠ É#ƒÎŽóÇs?ur Ëx»tƒÌh9$# É>$ys¡¡9$#ur ̍¤|¡ßJø9$# tû÷üt/ Ïä!$yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbqè=É)÷ètƒ   
3)      Do’a akan belajar
سبحان الله والحمد لله ولا اله الا الله والله اكبر ولاحول ولاقوت الا بالله العليِّ العظيم عدد كل حرفٍ كتب او يكتب ابد الا بدينو دهر الداهرين سبحانك لاعلم لنا الا ماعلمتنا انك انت السميع العليم    


By: Istahil@gi






Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih telah berkomentar